Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

UIN Sunan Kalijaga: a Memory to Remember


Kuliah di Kampus Putih bukanlah cita-citaku (pada mulanya). Jika bukan karena aku tidak diterima di rentetan daftar PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang kujajali. Mungkin aku takkan pernah mengeja nama kampus ini dalam buku panduan SNMPTN (Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri) tahun 2009 silam.

Bersama pilihan pertamaku mengambil jurusan yang sama di UNY, akhirnya kuturunkan kenaifan diriku mengakui bagaimana kemampuanku, demi yang penting bisa melanjutkan belajar di kampus negeri. Akhirnya kupilih dengan harap-harap cemas kampus kebanggaanku kini, UIN Sunan Kalijaga yang nyatanya bisa begitu kurindukan sekarang.

Bagaimanalah, kuliah di kampus bernapaskan Islam sebagai azasnya sungguh membuatku minder di tahun-tahun pertama. Mengingat background study-ku sama sekali tidak bermadrasah, amboi.. ternyata manusia UIN mau menerimaku dengan begitu ramahnya.

Senyum senior saat placement test baca al Qur’an misalnya, masih terekam manis sampai sekarang. Oh God, begitu indahnya jalan yang Engkau pilihkan untukku, mengingat siapa aku di masa lalu.. Ah.. aku hanya pantas berterimakasih pada-Mu 🙂

Mengapa begitu berterimakasih? Karna kuliah di kampus Islam negeri termurah itu.. Lanjutkan membaca “UIN Sunan Kalijaga: a Memory to Remember”

Diposkan pada Fisika menyenangkan :)

Sebingkai Kenangan Jogja Lantai Empat


.: Tanpa sengaja teringat sebuah catatan. Lucu sendiri ketika membacanya lagi beberapa bulan setelahnya. Aku pernah seingin ini. Kini catatan ini hendak kubagi saja, siapa tahu ada yang ingin membacanya 😀 :.

Masih ranum berbuah dalam ingatan, kali pertama mata ini melihat lagi yang ingin ia lihat setelah dua semester bergulir melupakan keinginan terbesarku di masanya. Pengumuman itu, butir-butir persyaratan itu, betapa menyesalnya kali pertamaku melihatnya dulu, kini sudah tiada berarti lagi.

Demi semoga menjadi kebaikan di masa depanku nanti dan demi bisa menuliskan kenangan ini, penyesalanku itu harus kubayar dengan lunas. Sebuah harga mati. Mengulang mata kuliah memang taksesemangat dibanding mengambil mata kuliah baru namun demi dua buah demi dan mengingat dua wajah yang selalu sepenuh hati untukku, aku harus melakukannya. Buah penantian panjang dari himmah yang sempat tertahan oleh sebuah nilai mata kuliah yang masih di bawah syarat pun kini terasa manis sudah dalam ingatan.

Selembar kertas rekruitmen yang sudah sejak lama aku ingin mengikutinya bisa kusambut dengan penuh semangat. Bersama langkah-langkah riang, semua syarat akhirnya bisa kukumpulkan tepat di hari akhir pendaftaran dan perjuangan pun menapaki babak baru. Tes seleksi.

Berada dalam ruangan tes sebelum soal dibagikan rasanya sudah ingin menyerah saja. Rasanya benar-benar menjadi amnesia akan keinginan kuat di hati, lupa akan liku jalan yang sudah dilewati, lupa akan restu yang telah kuminta pada Ibu dan Bapak, lupa, lupa, dan lupa.

Bagaimanalah, di ruangan sebesar ukurannya, sejauh mata mengedarkan pandangan yang nampak adalah wajah-wajah senior yang kukagumi dan teman-teman yang keren, sedangkan aku, siapa aku? Soal pun dibagi. Mental tempe kembali mengusik kendali detak jantung ketika satu per satu nomor soal selesai kubaca. Apalah daya, hanya pembelaan yang kucari. Kutengok teman-teman di sebelah kanan dan kiri, memutar kursi ke depan dan belakang. Cukup membantu karena ekspresi kami ternyata sama, senyum pun sama. Sama lucunya. Lanjutkan membaca “Sebingkai Kenangan Jogja Lantai Empat”