Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Satu Kata Lima Huruf Haruku


Semangat pagi tuan dan puan, semoga sepanjang hari menyenangkan! Hari masih gelap saat Ibu berkata, “ceria sekali pagi-pagi, kenapa ya?”, dalam Bahasa Jawa. Hihi. Tidak ada rahasia diantara kami. Aku dan Ibuku. Satu diantara dua yang paling berhak tahu seluruh kisah hidupku, saat ini.

Orang kedua setelah Ibu ialah Bapak, ah.. lima huruf satu kata penuh haruku ini, hari ini akan jadi sesi curhatku bersamanya. Seperti yang sudah-sudah, di setiap kesempatan kami bertemu, menyenangkan sekali bukan, mendapatinya semakin hari semakin mencermati apapun yang kuceritakan. Adakah ini yang orang bilang semakin tua seseorang semakin lembut hatinya itu? Bapakku, ampun tua dulu tapi. Hehe.

Ya, Bapak bagiku, masihlah orang yang selalu bisa menyisipkan canda tak peduli apapun genre cerita yang kubawa. Satu alasan aku selalu menantikan sesi curhat kami. Ditertawakan, sudah biasa. Malah suka, membawa serta relaksasi.

Bapak, aku tahu siapa yang lebih engkau rindukan dariku. Empat bulan tidak bertemu, aku melihatnya. Saat engkau diam-diam mengusap matamu demi melihat seseorang yang duduk disampingku. Anak yang pada akhirnya bisa engkau peluk lagi. Adikku. Adakah benar bahwa sejatinya hati laki-laki lebih lembut dari hati wanita?

Biarlah penduduk bumi membaca catatanku ini. Sekelumit cerita tentang Bapak. Meski begitu, aku jua selalu penasaran, apa yang akan ia sampaikan padaku jika ia membaca tulisan ini. Hahaha. Semoga tidak dibilang alay. Oh, tentu tidak. Bapak bukan ABG yang berasal dari jaman kekinian, tentu ia memiliki besar kemungkinan tidak mengenal kata ini dalam perbendaharaannya bukan? Tetap saja, semoga tidak. 😀

Bapak, jua satu-satunya orang rumah yang tidak pernah protes menjatuhkan semangat saat aku berkesempatan menjadi koki di dapur Ibu. Pernah suatu kali, saat libur sekolah, ingin membuatkannya sayur bening bayam. Masih ingat betul-betul ia hanya berkomentar, “ini sayur bening apa kolak sih?”, dalam bahasa suku kami juga seperti percakapanku dengan Ibu. Qiqiqiqiqi. Tak terbayang bagaimana seandainya ia berkomentar kasar. Boleh jadi aku enggan memasak selamanya. Wkwkwk.

Lanjutkan membaca “Satu Kata Lima Huruf Haruku”

Iklan
Diposkan pada CerPenku

Dear My Precious Dear


Tiada selapis awan pun malam itu. Langit bersih. Latar yang sempurna bagi para bintang bersinaran berteman cahaya rembulan.

Adalah Sabil, anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara di keluarganya, tengah duduk takzim di gundukan batu besar pinggiran kali batas desa. Tidak ada yang lebih istimewa dari lukisan langit kecuali gemericik air dan hamparan padi satu-dua ratus batang masih tampak rimbunnya di seberang kali.

oOo

Anak itu, satu-dua kali menghela napas panjang. Pikirannya masih dipenuhi tentang apa yang akan ia lakukan pada kertas yang sedari tadi ia genggam. Lanjutkan membaca “Dear My Precious Dear”