Diposkan pada lita lite

Surat Merah Jambu


Surat Merah Jambu

Satu hari di penghujung bulan September, ketika cahaya langit berpendar oleh titik-titik gerimis, aku masih berada di taman itu. Duduk di bangku berpayung favoritku bersama sebuah novel ringan, menanti seseorang. Dua belas menit waktu berjalan dari pukul sembilan pagi. Itu artinya sudah dua puluh satu menit aku menunggunya di sini di taman kampus. Sudah satu menit lebih dari batas waktu kesabaran seseorang untuk menunggu. Namun, sepertinya aku masih ingin menantinya. Ingin mendengar suaranya, berbagi cerita meski yang sering terjadi aku menikmati diriku menjadi pendengar baiknya, seperti yang pernah dia katakan padaku.

Kesabaranku menjadi luas tak terbatas untuknya. Ia yang selalu kukhawatirkan bukan karena lemah fisiknya tapi karena hal-hal mengerikan yang pernah melukai masa lalunya, kakek, rumah, dan cita-citanya. Sifatnya yang manja, celotehnya yang kenak-kanakan apalagi selera humornya itu nampaknya membuatku betah menunggu meskipun itu lama, duduk di sini untuk sekedar menepati janjiku menjadi pendengar baiknya (lagi).

Beberapa detik setelah itu, aku seperti merasakan sesuatu. Semilir angin berhembus dari belakangku, membelai lembut telingaku, mengabarkan bahwa ia datang. Renyah suara langkahnya pun menggerakkan senyum tersungging di bibirku. Tak kubiarkan lama berdiam diri menyambutnya, buku yang sedari tadi kupegang pun kututup. Pluk.

“Uni maaf membuatmu lama menungguku”, dengan santainya ia menyapaku dan langsung duduk di hadapanku begitu saja. Menatapku sejenak kemudian mengambil sesuatu dari tasnya. Dompet.

Taman kampus menjadi primadona bagi orang-orang yang mendambakan tempat teduh untuk sekedar berbincang dengan kawannya. Meski tak jarang kujumpai, belasan pasang kekasih memenuhi bangku-bangku panjang berhadapan dengan meja kayu kotak, seperti yang aku favoritkan di sudut ini.

“Bukankah sudah menjadi kebiasaanmu, ih….” gerutuku pura-pura merajuk.

“Kalau gitu apa kau ingin makan sesuatu? Atau es krim, mau es krim?” Rayuan andalannya pun muncul yang kerap membuatku tak kuasa lagi menyembunyikan sengiran. Hehe.

“Ide bagus! Aku mau strawberry saus coklat ya!” Aku pun senyum-senyum sendiri menyambut tawarannya itu.

“Yeeeee…. giliran ditraktir aja langsung senyum!” protesnya menggemaskan. Kami pun tertawa, menertawakan kebersamaan yang beberapa minggu ini kami jalani begitu menyenangkan.

Kim Andi Arsyadi. Nama lengkap anak yang selalu kukhawatirkan yang kini sedang memesan es krim. Lahir di tahun yang sama denganku. 1991. Hanya saja ketika aku sudah bisa tengkurap, ia baru hadir di dunia yang penuh hara-huru ini. Lima bulan lebih muda dariku, membuatku kerap menggodanya untuk memanggilku kakak. Haha.

Syauqy Hanuni, dan itulah namaku. Anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adikku Gibran dan Elok terpaut satu dan lima tahun dariku. Kami adalah anak-anak dari keluarga pas-pasan pemilik salah satu butik batik di sudut kota berslogan Berhati Nyaman ini. Uni, begitulah orang-orang memanggilku. Uni si kutu buku, Uni si ikal, Uni si rangking satu, semuanya itu aku.

“Terimakasih” ucapku seraya menerima secontong es krim darinya. Si ‘anak mami’ Kim Andi Arsyadi.

Bla bla bla, bla bla bla. Kami mengobrol kesana kemari, dari kisah heboh si dosen barunya Kim Andi Arsyadi yang super cantik sampai ikan koinya yang mati terjun payung dari aquarium, hmmm.. semuanya berjalan seperti biasanya hingga aku menyadari ada sepasang mata mengawasi kami dari kejauhan.

Aku menyadarinya ketika aku hendak beranjak dari tempat dudukku untuk membuang tisu ke kotak sampah di seberang taman. Indra? Bukankah itu Indra. Anak berkacamata dari jurusan Teknik Industri. Teman satu kelompok di kelompok kecil Dewa Aruci saat Ospek dulu. Apa maksudnya memandangiku seperti itu?

Tiga tahun tujuh bulan yang lalu, saat pagelaran Ospek diadakan di kampus kami, aku mengenal Indra—Kun Indra Abdillah. Mahasiswa asal Surakarta berperawakan tinggi, lumayan tampan, kulit sawo matang. Berada satu pleton dalam peloncoan Maba membuat kami dan teman-teman Dewa Aruci cepat akrab. Mendebat senior, membalas olokan hingga pura-pura sakit, benar-benar perlawanan mengasyikkan.

Sejak saat itu kami (aku dan Indra) bertukar nomor Hp. Berawal dari obrolan ringan, hubungan pertemanan kami bergulir pada bulan-bulan berikutnya dengan baik. Tidak ada yang spesial dari pertemanan kami. Saling menraktir, nonton bareng, atau sekedar mengunjungi perpustakaan Kota Jogja, bagiku sama rasanya ketika bersama teman masa kecilku bermain pasir, biasa saja. Tapi, entah apa yang Indra rasakan. Sepertinya ia menyukaiku, sepertinya begitu, ya seperti itulah kepekaan batinku bilang. Bakat yang kumiliki sejak aku menyadarinya. Yeah.

Menyadari tertangkap mata olehku, dia—Indra sekonyong-konyong membalikkan badan dan pergi begitu saja dari tempat ia berdiri di balik pohon palm. Ih-desisku.

Jumat, 5 Oktober 2012

“Uni, ayo ikut aku!” seru seorang teman seangkatan yang langsung menarik tanganku erat-erat. Lanjutkan membaca “Surat Merah Jambu”