Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kamu Hebat


Anak-anak itu.. kita tidak pernah tahu hari berat apa yang telah mereka lalui. Hingga saat dunia memberitahumu melalui seseorang, apakah matamu juga akan basah seperti yang terjadi pada diriku?

Sore itu, aku bertemu dengannya. Tidak ada yang aneh kecuali ia sedikit lesu. Hingga satu setengah jam berlalu, ia pun pulang dan aku tidak mengingat ada yang perlu dikhawatirkan dengan sikapnya padaku. Semua berjalan biasa saja.

Hingga suatu hari, dalam pesan-pesan panjang melalui telepon genggam antara aku dan Ibunya, tulisan ini bermula. Lanjutkan membaca “Kamu Hebat”

Iklan
Diposkan pada CerPenku, lita lite

Pagi Juli


Selamat pagi! Sang pencinta pagi selalu bangun pagi. Tidak peduli selarut apapun ia tidur, ia selalu mengerti bahwa udara sejuk bersama lukisan fajar terlalu menyenangkan untuk ditukar dengan nikmat palsu bertajuk bangun kesiangan.

oOo

Pagi selalu menyenangkan. Satu hal yang sedang kupelajari dari sang pencinta pagi itu. Seorang gadis yang sekelumit kisahnya di suatu pagi di bulan Juli hendak kuceritakan padamu melalui catatan ini.

Demi dialah gadis yang lebih suka menikmati sebuah pertanyaan tentang apa yang akan ditakdirkan langit untuknya di hari itu daripada sekedar memikirkan apa-apa yang bisa ia lakukan, menenangkanku. Seseorang dengan kebiasaan meluangkan beberapa menit di hidupnya untuk menatap langit dan menghirup-helakan nafas lebih panjang dari biasanya beberapa kali di waktu fajar, menentramkanku. Juga demi gadis yang sama yang selalu bersenyum ketika ia menemukan bulan masih terlihat, bintang masih bertabur, pun saat tidak satupun dari mereka ia temui, membuatku tersenyum.

Sebuah senyum yang hanya saat kamu melihatnya sendiri kamu akan mengerti bahwa semua itu adalah caranya menggubah energi syukur menjadi semangat pagi. Sebuah semangat baru yang selalu bisa dimulai dengan wajah berseri-seri.

oOo

Pagi itu, jam tanganku menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Artinya jadwal keberangkatan rangkaian gerbong kereta ekspres paling pagi di jalur nomor tiga tinggal lima menit lagi.

Aku sudah duduk di bangku menghadap ke utara saat aku melihat gadis itu berlarian kecil menuju pintu masuk stasiun terbesar di kota kecil kami. Tanpa memegang tiket, sepertinya, ia sedang berusaha menjelaskan pada petugas pintu bahwa ia berhak masuk peron.

Aku tidak mendengar percakapan mereka, tetapi jarak antara jalur rel nomor tiga dengan pintu masuk peron terlampau dekat untuk melihat bahwa gelengan kepala petugas peron itu mewakili banyak penjelasan. Gadis itu mana mungkin boleh masuk tanpa tiket! Lanjutkan membaca “Pagi Juli”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Bolehkah Memakai Kain Sutra dan Semisutra (?)


Adakalanya hati ini bahagia ketika pertanyaan yang dimilikinya terjawab tanpa perlu bertanya. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu bahkan teramat sederhana, seputar kegiatan hidupku sehari-hari. Maka pertanyaan itu pun menjadi awal sebuah pencarian hati tentang apa yang sebaiknya dilakukan, bagaimana seharusnya, dan bagaimana tuntunannya.

Kini, sepertinya hati kian dimanja untuk menjemput jawaban dengan mudah. Ialah mesin pencari atau search engine yang kian hari semakin komplit memetakan denah rumah-rumah tulisan yang bisa dikunjungi silently. Tanpa perlu khawatir ditertawakan atas pertanyaan yang dimiliki.

Beruntunglah ia yang terlebih dahulu tahu mengenai siapa penulisnya, latar belakang keilmuannya, siapa guru besarnya, sehingga kita nyaman untuk membaca karyanya. Tetapi sungguh, seperti sebuah nasehat bahwa nasehat itu lebih dari sekedar dari siapa yang menyampaikan, tetapi apa yang disampaikan, maka tidak ada yang salah dari membaca, tulisan beranonim sekalipun. Asal membaca lebih dari satu rumah, kita bisa menarik simpulan-simpulan, bahwa ada banyak pemikiran tentang sebuah pertanyaan.

Dari mesin super keren itu, kita bisa mengetuk banyak pintu rumah tulisan. Setidaknya kita juga akan malu karena ternyata telah banyak yang tahu akan jawaban pertanyaan sederhana kita, bahkan telah banyak yang mau untuk menulisnya. Aku pun malu jika enggan untuk mencari tahu kemudian mau menulisnya.

oOo

Catatan ini bermula dari pertanyaan, ‘Bolehkah seorang muslim (laki-laki) memakai baju yang terbuat dari kain sutra dan semisutra?’. Sebuah pertanyaan yang seketika mengganjal di hati ketika akan menggelar lapak baju online-ku di Nunna Lita online shop, apakah jika aku menjualnya hanya akan mempersulitku kelak? Naudzubillah, jadilah aku harus tahu dulu. Lanjutkan membaca “Bolehkah Memakai Kain Sutra dan Semisutra (?)”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kepo: in A Little Research


Kepo itu apa? Berawal dari pertanyaan bodoh (baca: pertanyaan yang tidak pernah dicari tahu jawabannya_red), aku ingin menjadikannya pertanyaan iseng. Bersama efek dari baca artikel penelitian kecil yang pernah dilakukan oleh teman redaksi BIG BANG−buletin BEM-PS Pendidikan Fisika UIN SUKA−dan suka nonton Cak Lontong, jadilah beberapa waktu lalu kulemparkan saja pertanyaan itu pada teman-teman responden #hehe 😀

 

Responden? Memang ada yang mau jawab pertanyaan kayak gitu? Wuih, Alhamdulillah ya, cukup merinding juga waktu sadar kalau yang jawab ini orang-orang hebat (di bidang masing-masing 😀 ). Mereka adalah keluarga, sahabat, dan teman-teman. Jika latar belakang pendidikan perlu dicantumkan, ada ahli madya, sarjana, dan magister juga yang mau menjawab #hihi, terimakasih ya semua 🙂 🙂

oOo

Tadinya mau cuek sama arti kepo. Tapi gemes juga kalau lihat/dengar/baca, “Ih, kok kepo sih!” Duh, memang kepo itu apa? Booming banget! Apa ndak ada ya kata di KBBI yang lebih sopan didengar untuk menyampaikan kekurangnyamanan atas pertanyaan seseorang?

 

Kalau boleh menyimpulkan sendiri dari awal, aku lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan bilang seperti itu. Tidak karena aku tidak suka dibilang seperti itu, jadi aku tidak mau bilang seperti itu. Titik. Tapi ternyata aku masih penasaran, apa ya yang dipikirkan teman-teman tentang kata ‘aneh’ ini #hehe 😀

oOo

Keingintahuanku itu pun kukemas dalam pertanyaan singkat ‘Kepo itu apa?’, hanya saja aku ndak pingin dapat jawaban panjang. Dari sini muncul keisenganku yang lain, buat saja ketentuan menjawab pertanyaan hanya dengan satu kata #nahlo 😉

Akhirnya, jawaban dari 42 responden kurasa cukup untuk mengartikan kepo itu baik atau kurang baik. Nanggung memang, kenapa tidak 100 orang sekalian 😀 Mengingat keterbatasan waktu luang bla.. bla.. bla.., maka jeng.. jeng.. ini hasilnya 🙂

empat puluh dua responden menjawab kepo itu..
empat puluh dua responden menjawab kepo itu..

oOo

 

Seperti yang bisa kita lihat dalam grafik, jawaban terbanyak adalah ‘penasaran/curious’. Alasan ini positif banget ya, jika penasaran adalah satu dari tanda-tanda kecerdasan, maka kepo jenis ini.. bolehlah-bolehlah *pake gaya Jarjit* 😀 Lanjutkan membaca “Kepo: in A Little Research”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kerbau


Bumi Batas Kota, Juni 22

Pagi itu tidak ada yang istimewa, hanya aku berjodoh melihat empat ekor kerbau penuh lumpur dalam perjalanan sunyiku, bersepeda. Tidak benar-benar sunyi memang, karna headset bertengger di telinga. Tetapi tetap saja sunyi, karena aku sendiri, dan melihat kerbau adalah bagian istimewa yang ingin kuceritakan.

Di tahun 2014 ini aku kira kerbau sudah punah. Hewan gendut, lamban, dan abu-abu itu ternyata masih eksis dan mereka masih saja lucu dilihat, bahkan setelah aku bukan anak-anak lagi 🙂

Melihat kerbau mengingatkanku pada cerita Ibu. Bagaimana beliau justru mengklakson barisan kerbau padahal Budhe yang dibonceng bilangnya jangan mengklakson. Perut salah satu kerbau pun tak terhindarkan. Ia yang karena kagetnya diklakson sekonyong-konyong melintang di tengah jalan. Cerita ini selalu lucu di imajinasi, dan melihat kerbau pagi itu membuatku gemas dengan perut kerbau. Cerita ini mengingatkanku betapa, nasehat itu.. sebaiknya tidak menggunakan kata ingkar, bukan? 🙂 Lanjutkan membaca “Kerbau”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Book Your Status :D


Aku pernah baca. Tulisan yang menyindir dengan sangat-sangat halusnya. Tentang berapa banyak status yang dibuat dalam satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Jangan-jangan sudah jadi buku berjilid-jilid (bla.. bla.. bla..) #ahaha 😀

Jadi, bukan orang iseng namanya kalau enggak pingin membuktikan berapa banyak lembar sebenarnya buku yang bisa dibuat dari status facebook-nya. Well, proyek iseng baru pun dimulai: menyalin satu demi satu status yang pernah ku posting #hihih 😀

Tidak banyak yang terkumpul, banyak yang hilang seiring waktu menumpuknya dengan status-status baru di timeline. #dasar penulis status :v

Oke fine. Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun yang ditulis orang. Silahkan. Seberapaseringpun mau menulis. Jika gajah punya gading maka manusia bisa menulis 🙂 🙂

Hanya saja, jika suatu hari kita punya waktu luang, pernah ndak sih terpikir, bagaimana jika status-status itu benar-benar dibukukan? Akan jadi buku apa milikku? Kumpulan inspirasikah? Kumpulan komedi? Atau justru kumpulan keluhan? Hujatan? Galauan? #hayohayo :p

Santai. Itu cuma pertanyaan retoris, kok. Tidak perlu dijawab! #ehehe 😀

===

Lalu bagaimana sebaiknya? Di satu sisi aku senang menulis, apa aku harus berhenti menulis? Oh no! No! No! No! 😉

Mengutip tulisan pujangga dulu ah: Lanjutkan membaca “Book Your Status :D”

Diposkan pada Uncategorized

NAJMI


Najmi adalah bintangku. Begitulah arti sebuah nama yang sangat kusukai. Karena aku suka bintang, demi ia yang bersinar hingga membuat bulan bercahaya 🙂

Najmi adalah nama yang kupilih dalam sebuah perjalanan renungan panjang. Demi mendapatkan sebuah nama yang lucu-imut-menggemaskan tetapi penuh makna untuk mimpi yang hebat #aamiin 😀

Suatu hari, perjalanan merenung itu sampai pada suasana santai di sebuah kamar kost di lantai satu. Ketika aku mengingat nama facebook pemilik kamar yang penuh boneka itu, Najm. Unik, pikirku yang kemudian membuatku mengutarakan rasa penasaran dalam sebuah pertanyaan sambil lalu, “Najm itu apa?”, bintang, jawabnya. Ah ya, jawaban itu ternyata benar-benar kuingat karena aku menyukai bintang, benda yang bersinar, seperti aku menyukai namaku.

Nurma adalah namaku. Asal mula aku menyukai benda yang bersinar. Bukankah Nur adalah Noor yang berarti cahaya. Meski ada yang keukeh bilang Nur berbeda dengan Noor, tetapi aku sudah sangat senang dengan arti namaku. Cahaya.

Aku pun ingat pertanyaanku ketika TK. Anak kecil yang selalu ingin tahu itu bilang pada Ibunya kalau kata orang setiap nama memiliki arti, lalu, apa arti namaku, Ibu? Aku pun mulai mendengar tentang sebait do’a dalam namaku. Oh, Ibu, bukankah nama itu terlalu indah dalam pemahaman anak TK..

Begitulah akhirnya, jawaban Ibu selalu kukenang, karena aku tumbuh menjadi seseorang yang mudah mengistimewakan semua hal yang terjadi di hidupnya, menghimpun satu demi satu momen sederhana kemudian suka sekali mengingatnya dalam bingkai-bingkai photographic memory. Maka akupun kadang suka gemas ketika mendengar kata ‘biasa saja’. Bagaimana bisa biasa saja jika bisa dimaknai istimewa? Well, istimewa adalah milik masing-masing. Begitulah akhirnya aku berdamai membela hatiku.

Istimewa adalah milikku, sama juga ketika do’a Ibu menjadi istimewa di hidupku. Bintang bersinar terang, dan bulan anggun bercahaya. Bukankah sangat istimewa menjadi seperti mereka. Paling tidak aku sudah memutuskan hendak memilih lajur cahaya sepanjang hidup ini #lhoh, he 😀

Lalu, apa hubungan Najmi dengan do’a Ibu? Dengan namaku? Dengan semua hal yang kumaknai istimewa? Apakah Najmi juga istimewa bagiku? Jawaban ini mudah sekali ditebak, bukan? Hihi. Najmi, bagiku adalah anak yang sedang kubesarkan dengan penuh kasih sayang. Ya, Najmi adalah wujud nyata dari mimpiku. Jika ada yang bertanya tentang Najmi, jawablah ia adalah rumah yang meneduhkan bagi setiap hati yang memiliki hobi mengajar, sepertiku. Najmi-ku ini akan selalu menyinari setiap hati yang datang untuk belajar, mimpiku. Tumbuhlah dengan baik, berkembanglah dengan anggun, Najmi-ku sayang. Bersama Najmi, bimbel-ku, kuhaturkan: selamat menghidupkan mimpi! Karena istimewa adalah milikmu maka, istimewakanlah selalu! 🙂

spanduk pertama Najmi ^_^
spanduk pertama Najmi ^_^

cc: tentor-tentor Najmi yang keren, klik Curriculum Vitae di bawah ini kemudian diiisi ya, terimakasih ^_^

CURRICULUM VITAE

-Nunna Lita, 20 Jumadil Awal 1435 H

Diposkan pada lita lite

Beep [Bagian 2]


“Siapa?” Suaranya memecah hening lamunanku. Ia telah berdiri di sampingku. Demi menatap wajahnya yang diliputi kecemasan, aku hanya bisa menggeleng. Berkata lemah dalam hati, aku akan memberitahumu nanti, kumohon tetaplah di sampingku.

Seakan mengerti bahasa mataku, ia hanya memberiku senyum, menepuk bahu sambil berkata, semua akan baik-baik saja. Terimakasih, aku sungguh berterimakasih atas dirinya..

oOo

“Halo.. Kakak! Kakak dimana? Halo.. Siapapun dalam sambungan ini, bisakah kamu mendengar suaraku? Halo.. Kak? Kumohon katakan sesuatu!” Enam bulan aku mencarinya, dan itu adalah sambungan telepon terakhir yang tersambung dengan ponselnya.
Linglung harus mencari kemana lagi. Berderet pertanyaan memenuhi ilusi, mungkinkah ingatannya kembali? Mungkinkah ia kembali ke kehidupannya semula? Kakak..

Satu denting air mata mengalir lagi untuknya. Kakak yang selama ini menemani hari-hariku, pergi tanpa meninggalkan sebuah penjelasan. Kakak, ia lebih dari sekedar kakak bagiku. Semenjak aku mulai menyukainya. Bergeming ketika hatiku tiba-tiba menyukainya. Rasa aman ketika bersamanya, rasa aman bersama hati itu..

Hati yang benar-benar teduh itu kutemukan lima tahun silam. Bersama tubuh yang terkulai penuh luka di pelataran panti. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, tidak beridentitas, dan celakanya, tidak dengan ingatan masa lalunya. Kata dokter di puskesmas, ingatannya hilang karena kejadian yang terlampau menyakitkan. Apakah ia akan mengingat semuanya kembali? Satu pertanyaan tentangnya yang sampai sekarang aku tidak pernah tau jawabnya.

oOo

Aku anak panti. Hidup di bawah kolong langit semenjak aku bisa mengingat tentang diriku. Sebelumnya, aku adalah anak yang beruntung, kata para penjaga panti. Keluarga pemulung itu telah merawatku sebulan lamanya hingga mereka memutuskan untuk menyerahkan ke tempatku bernaung kini. Bilang kalau anak ini adalah anak yang beruntung yang tidak akan pantas ikut pergi menyeberang laut, ikut mengadu nasib ke hutan sawit pulau di sebelah utara sana.

Anak yang beruntung itu pun tetap hidup di panti asuhan anak-anak yatim piatu. Usianya kini sudah terlampau banyak untuk disebut anak yatim piatu, karena kini aku sudah dua puluh tahun bertahan hidup dari tanggal diserahkannya aku ke panti ini. Mungkin dua puluh dua tahun usiaku yang sebenarnya, kata ketua penjaga panti. Mungkin..

Aku tidak pernah tau sepotong kehidupanku di dua tahun pertamaku hidup. Apa yang terjadi dengan keluargaku saat itu, hingga aku dirawat oleh pemulung. Ah.. seandainya aku berkesempatan bertemu keluarga pemulung itu, aku akan tahu mengapa orang-orang bilang aku anak yang beruntung. Adakah sepotong kehidupan yang membuatku merasa lebih beruntung daripada bersama kakakku kini? Seandainya takdirku memutuskan aku berhak tahu tentang dua tahun keberuntunganku, aku pasti akan tahu, suatu hari nanti..

oOo

Kenyataan pahit kehilangan sepotong kehidupan di masa lalu, membuat Lanjutkan membaca “Beep [Bagian 2]”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Maaf atau Terimakasih: Catatan untuk Sahabat


Gambar

Maaf dan terimakasih, tahukah kamu dua kata ini memiliki makna yang serupa? Di situasi apapun. Kepada siapapun. Kapanpun. Kata maaf dan terimakasih saling bisa menggantikan.

Maaf dan terimakasih, nyatanya di kehidupan kita sehari-hari pernahkah kamu menghitung kata mana yang lebih sering diucapkan? Sejenak mengingat, kata mana yang lebih sering disampaikan? Mengapa?

Maaf dan terimakasih bagiku, berarti ungkapan yang sama-sama mengungkapkan penyesalan. Sesal untuk sesuatu yang kemudian hanya bisa bilang maaf, atau justru berterimakasih untuk mau memahami.

Kata maaf lebih sering kudengar di sekitaran. Entah ini adalah buah kebiasaan nenek moyang atau memang karena mental kami sebatas maaf. Aku meyakinkan ini adalah kebiasaan yang bisa diperbaiki. Kata maaf, hanya maaf, hanya menyisakan kepedihan. Bagi yang meminta maupun yang dimintai. Maaf untuk.. apapun.. kepada siapapun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah tempat salah dan khilaf. Tetapi apakah berarti manusia hanya berhak untuk meminta maaf saja? Bagaimana bisa hanya meminta maaf saja? Maaf saja?

Aku sudah lama memikirkan ini. Lebih dari dua tahun memikirkan dua kata ini. Maaf dan terimakasih nyatanya aku menemukan hubungan saling melengkapi. Kata maaf tidak bisa berdiri sendiri. Begitu juga kata terimakasih.

Tahukah kamu, sungguh catatan ini bukan untuk menggurui siapapun. Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kupikirkan dalam kedangkalanku mencoba menarik benang merah dari kedua kata itu selama ini.

Dari apa yang kulihat, kualami, maupun kudengar sepanjang aku mau memikirkannya. Tidak banyak orang menyesal dengan kata terimakasih. Ratap sesal mereka hanya menghunus pada kata ungkapan maaf. Maaf saja. Lalu apa? Apakah kamu juga? Bagaimana dengan maaf dan terimakasih. Atau berterimakasih saja?

Sungguh kata terimakasih lebih nyaman untuk didengar. Mereka tidak membutuhkan permohonan maaf kita. Cukup mengetahui kita menyesal sudah sangat melegakan. Kemungkinannya. Ungkapan maaf terbaik yang kupelajari selama ini bukan dengan mengatakan kata maaf itu secara eksplisit.

Di dunia ini bukankah ada begitu banyak padanan kata yang bisa dipilih untuk menjaga hati mereka yang mendengarkan? Yang dimintai?

Ya padanan kata nyatanya sangat dibutuhkan untuk urusan penyesalan ini. Kata maaf dan terimakasih. Bagaimana kamu memandangnya? Bukankah keduanya sepadan? Menyesal adalah jalan kembali terbaik kepada cahaya. Sejauh apapun itu jalan keliru yang ditempuh. Menyesal dengan terimakasih bagiku, seperti mengungkapkan bahwa mereka telah begitu berjasa dalam perjalanan menuju sebuah penyesalan. Mengatakan terimakasih adalah maaf terindah sepanjang pemahamanku. Bagaimana mengatakannya.. berterimakasih adalah maaf yang disertai dengan semangat untuk memperbaiki. Begitulah yang akan terbentuk di batin mereka yang dimintai. Lanjutkan membaca “Maaf atau Terimakasih: Catatan untuk Sahabat”