Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^, Uncategorized

Bidadari itu…


Assalamu’alaikum sahabat wordpress.. lama diri tiada berkunjung kemari. Jika ini rumah, pastilah rumput di halamannya sudah meninggi, lantainya berdebu, dan agaknya benar aku rindu. Bukan rindu menggebu, hanya rindu menulis disini, dan bersama catatan lama ini, semoga rinduku membawa serta pemahaman yang baik tentang, bidadari itu….

oOo

Mataku basah membaca dialog ini. Dialog panjang tentangmu, tentang Islam memuliakan dirimu. Sebuah dialog yang bermula dari Surah Ad-Dukhan ayat 54, “Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.”

 

Adakah kamu juga bermata basah setelah membaca ini? Sampaikan padaku, aku akan senang mendapati diriku ditemani. Lanjutkan membaca “Bidadari itu…”

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

NAJMI


Najmi adalah bintangku. Begitulah arti sebuah nama yang sangat kusukai. Karena aku suka bintang, demi ia yang bersinar hingga membuat bulan bercahaya 🙂

Najmi adalah nama yang kupilih dalam sebuah perjalanan renungan panjang. Demi mendapatkan sebuah nama yang lucu-imut-menggemaskan tetapi penuh makna untuk mimpi yang hebat #aamiin 😀

Suatu hari, perjalanan merenung itu sampai pada suasana santai di sebuah kamar kost di lantai satu. Ketika aku mengingat nama facebook pemilik kamar yang penuh boneka itu, Najm. Unik, pikirku yang kemudian membuatku mengutarakan rasa penasaran dalam sebuah pertanyaan sambil lalu, “Najm itu apa?”, bintang, jawabnya. Ah ya, jawaban itu ternyata benar-benar kuingat karena aku menyukai bintang, benda yang bersinar, seperti aku menyukai namaku.

Nurma adalah namaku. Asal mula aku menyukai benda yang bersinar. Bukankah Nur adalah Noor yang berarti cahaya. Meski ada yang keukeh bilang Nur berbeda dengan Noor, tetapi aku sudah sangat senang dengan arti namaku. Cahaya.

Aku pun ingat pertanyaanku ketika TK. Anak kecil yang selalu ingin tahu itu bilang pada Ibunya kalau kata orang setiap nama memiliki arti, lalu, apa arti namaku, Ibu? Aku pun mulai mendengar tentang sebait do’a dalam namaku. Oh, Ibu, bukankah nama itu terlalu indah dalam pemahaman anak TK..

Begitulah akhirnya, jawaban Ibu selalu kukenang, karena aku tumbuh menjadi seseorang yang mudah mengistimewakan semua hal yang terjadi di hidupnya, menghimpun satu demi satu momen sederhana kemudian suka sekali mengingatnya dalam bingkai-bingkai photographic memory. Maka akupun kadang suka gemas ketika mendengar kata ‘biasa saja’. Bagaimana bisa biasa saja jika bisa dimaknai istimewa? Well, istimewa adalah milik masing-masing. Begitulah akhirnya aku berdamai membela hatiku.

Istimewa adalah milikku, sama juga ketika do’a Ibu menjadi istimewa di hidupku. Bintang bersinar terang, dan bulan anggun bercahaya. Bukankah sangat istimewa menjadi seperti mereka. Paling tidak aku sudah memutuskan hendak memilih lajur cahaya sepanjang hidup ini #lhoh, he 😀

Lalu, apa hubungan Najmi dengan do’a Ibu? Dengan namaku? Dengan semua hal yang kumaknai istimewa? Apakah Najmi juga istimewa bagiku? Jawaban ini mudah sekali ditebak, bukan? Hihi. Najmi, bagiku adalah anak yang sedang kubesarkan dengan penuh kasih sayang. Ya, Najmi adalah wujud nyata dari mimpiku. Jika ada yang bertanya tentang Najmi, jawablah ia adalah rumah yang meneduhkan bagi setiap hati yang memiliki hobi mengajar, sepertiku. Najmi-ku ini akan selalu menyinari setiap hati yang datang untuk belajar, mimpiku. Tumbuhlah dengan baik, berkembanglah dengan anggun, Najmi-ku sayang. Bersama Najmi, bimbel-ku, kuhaturkan: selamat menghidupkan mimpi! Karena istimewa adalah milikmu maka, istimewakanlah selalu! 🙂

spanduk pertama Najmi ^_^
spanduk pertama Najmi ^_^

cc: tentor-tentor Najmi yang keren, klik Curriculum Vitae di bawah ini kemudian diiisi ya, terimakasih ^_^

CURRICULUM VITAE

-Nunna Lita, 20 Jumadil Awal 1435 H

Diposkan pada Uncategorized

Selamat Pagi!


Selamat pagi. Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan (Tere Liye, 2013).

Sepotong kutipan novel yang selalu kusukai. Novel Sunset Bersama Rosie. Paragraf yang kini hampir aku menghapalnya utuh. Kalimat-kalimat tentang syukur pagi pun menjadi selalu menyukainya karna pagi selalu indah. Meski langit berubah kelabu menyeramkan seperti yang terjadi satu hari yang lalu. Pagi itu, aku tergagap dibangunkan adik bungsu untuk ikut melongok ke jendela depan rumah. Bersama degup jantung berakselerasi cepat, duhai.. pemandangan apa yang dihamparkan di depanku saat itu. Langit menggurat kelabu dengan sisa hujan cokelat menganak sungai di jalanan. Langit itu, seperti langit dunia sihir ketika mendung di imajinasiku, dan hujan cokelat itu siapa gerangan yang menumpahkan botol susu dari atas sana?

Berita semalam benar sudah. Dentuman-dentuman yang terdengar nyatanya bukan dari medan latihan prajurit siap perang. Bukan, melainkan lebih hebat. Dentuman gunung meletus. 22.30 WIB, riuh media mengabarkan gunung Kelud mulai meletus. Kode biner melesak di jalur-jalur informasi lalu sampailah kabar itu ke kota kecil ini. Jarak Purworejo – Kelud rasanya cukup jauh. Jika ke Wonogiri saja membutuhkan waktu 5 jam perjalanan maka, butuh waktu sekitar 6 jam dari Wonogiri untuk sampai ke zona bahaya itu. Cukup jauh untuk membayangkan bagaimana lirih dentuman yang sebenarnya diserukan gunung terdengar di sekitar sana. Masya Alloh.

bunga Ibu
bunga Ibu

Selamat pagi. Bagiku waktu selalu pagi. Apalagi ketika waktu benar-benar masih pagi. 06.45 WIB. Rutinitas sekolah adik seharusnya sudah rusuh menyibak hening pagi. Namum tidak untuk pagi itu. Sekolah otomatis diliburkan. Siapa pula yang mau berabu-abu demi melihat sekolah tanpa manusia-manusia? 14 Februari 2014 menjadi hari libur dadakan bagi kota di jalur abu Kelud. Hari itu seharusnya aku lantas ikut duduk manis saja di dalam rumah, menyaksikan liputan demi liputan perkembangan Kelud dari dalam sana. Layar televisi. Tetapi tidak untuk pagi itu. Aku harus keluar demi mencari sesuatu.

Obat untuk Ibu. Sedih, melihatnya sakit justru di saat-saat kesehatan harus benar-benar dijaga ditengah kepulan abu. Sedih, mendengar batuknya. Suara parau, mata berair, badan demam, lalu muntah. Jika bisa menggantikan, lebih baik aku saja yang sakit. Ibu, syafakillah.

Lanjutkan membaca “Selamat Pagi!”

Diposkan pada Uncategorized

Liku Hidup: Catatan Selasih Nasehat


“Jalan hidup tidak selalu mulus, kadang bertemu lubang, kerikil tajam, jurang, tanah lempung, atau pasir hisap tetapi, sungguh tidak mengapa bila kita lewati menggunakan helikopter.” (Nunna Lita, 2013)

Yap, begitulah inti nasehat dari seorang kakak sepupu ipar tentang liku hidup. Nasehat yang cukup konyol untuk diingat-ingat oleh orang konyol ini, kini kucoba untuk menghadirkannya kembali menggunakan kata-kataku sendiri untuk siapa saja yang berkesempatan membaca catatan diri ini.

Aku bersyukur kakak perempuanku berjodoh dengan ipar seperti dia. Seorang enterpreneur sejati dalam pandanganku karena pernah pada satu kesempatan aku bertanya tentang pekerjaan iparku pada kakak sepupuku maka, jawaban menarik yang kini terngiang hebat dibenakku dan hendak kutiru adalah karena jawabnya: “Kita cuma pengumpul recehan kok!”. Subhanalloh.. Dua jempol untuk siratan nasehat unik kalian!

Berbekal nasehat ini, jika orang boleh mendramakan perjalanan hidup menjadi sedemikian mengerikan maka, kita pun boleh kan menyikapinya dengan sederhana saja?

Sesederhana nasehat seorang guru untuk:

“Berdoalah untuk yang terbaik dan bersiaplah untuk yang terburuk!”

Duhai.. hidup terlalu sederhana untuk disyairkan rumit. Hidup juga terlalu indah untuk selalu diratapi atau justru terlalu melenakan ketika selalu dituruti?

Satu yang pasti, hidup terlalu syahdu seperti sebuah lagu favoritku berikut ini: Lanjutkan membaca “Liku Hidup: Catatan Selasih Nasehat”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^, Uncategorized

in Memoriam.. Omi-ku.. Sahabat-ku..


Omi-ku.. Apa kabarmu sekarang? Ada dimana? Dimiliki siapa?
Aku, sahabatmu ini sedang kangen dan hanya bisa membuat tulisan ini untuk mengingat kebersamaan kita..

Omi-ku.. Setiap jalan yang kau lalui bersamaku, apakah kau bahagia? Apa kamu menikmatinya? Setiap jalan berkubang yang takterelakkan, atau gundukan yang memacu adrenalin, maka setiap itu aku elus kepalamu dan berkata, “Maafkan aku Omi, im so sorry!” Apa kau mengingatnya?

Omi-ku.. Bagiku kamu adalah sahabat lebih dari sekedar tunggangan berjuluk kuda besi seperti yang dikatakan orang-orang. Kamulah yang telah mempercepat langkahku, memendekkan jarak antara dua kota untukku menjadi satu setengah jam, berpanashujan-hujanan denganku, sampai berkali-kali mogok di jalan..

Omi-ku.. Mengingat itu aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Berapa kali mogok di jalan, sesakitapapun mengingatnya, mari kita kenang lagi..

Omi-ku.. Mentari hampir menghilang dari peredaran mata memandang saat itu. Bumi Sentolo menjadi saksi atas kesakitanmu. Beruntung kamu mogok di dekat keramaian. Beberapa pemuda membantumu menuju rumah seorang warga yang cukup jauh dari jalan raya. Kau tahu perassaanku saat itu Omi? Aku ketakutan. Satu karena Magrib sudah menjelang. Dua karena aku melanggar nasehat Ibu untuk tidak pulang lebih dari jam empat sore. Tiga karena orang yang menolongku berpenampilan sangar sampai aku menyadari bahwa menilai seseorang tiak setipis kulit ari atau karna rambut gondrong untuk menyimpulkan sesuatu. Empat karna aku terpaksa meninggalkanmu sendiri di tempat asing karna kondisi kritismu, dan lima karena aku diantar pemuda itu menunggu bus yang takkunjung datang dalam posisi hp low-bat. Aku minta maaf..

Omi-ku.. Hari itu, di Bumi yang sama kamu ngambek lagi. Horor mengingatnya. Kejadian yang membuatku sampai sekarang membaca alfatihah setiap melewatinya. Dan lagi-lagi aku harus meninggalkanmu di tempat asing. V-belt mu remuk, aku malu mengingatnya. Aku memang takpaham otomotif, tapi aku hanya diam merasakan keganjilan menaikimu saat itu. Aku minta maaf..

Omi-ku.. Kulit kakimu robek di Jalan Wates itu aku benar-benar minta maaf. Salahku karna pulang sebelum shalat. Aku minta maaf..

Omi-ku.. Kulit kakimu robek lagi. Kawat sebesar itu saat dalam perjalanan menuju Goa Sri Gethuk bersama teman-teman KKN, maaf karna tak menghindarinya..

Omi-ku,, untuk setang yang bengkok dan lecet-lecet di badanmu saat lututku mencium aspal baru di perbatasan Jateng-DIY aku minta maaf. Salahku karna aku pulang memakai rok, lebih dari jam empat sore (lagi) bersama sahabat kentalku jaman SMA. Aku minta maaf..

Omi-ku.. Terlepas dari kenangan sendu bersamamu, aku hanya ingin selalu berterimakasih. Bersama syukurku kepada-Nya, kuucapkan terimakasih untuk menemaniku touring bersama Ibu sampai Wonogiri kota sukses..

Omi-ku.. Untuk menemaniku menimba ilmu. Menemaniku bertemu murid-muridku, sungguh kuhaturkan terimakasih 🙂

Omi-ku.. Untuk menemaniku silaturrahim ke rumah keduaku di Jogja di Warung Makan Fortuna di Jalan Tasura 44 Pugeran Depok Maguwoharjo bersama keluarga Oom dan Bulik yang telah menampungku saat kontrakan habis sewa, terimakasih 🙂
Semoga rumah keduaku itu menjadi berkah karena merawat anak di penghujung kuliahnya, aamiin..
selalu laris manis 🙂

Menerima catering snack, nasi box, dan nasi tumpeng. Hub. 081578152929 :)
Menerima catering snack, nasi box, dan nasi tumpeng. Hub. 081578152929 🙂
@ WMFortuna, Jalan Tasura 44 Pugeran Depok Maguwoharjo
@ WMFortuna, Jalan Tasura 44 Pugeran Depok Maguwoharjo
Semoga berkah,,selalu ramai pelanggan :)
Semoga berkah,,selalu ramai pelanggan 🙂

Omi-ku.. Untuk kebersamaan saat hunting durian bareng si adik bungsu dan teman-teman Pendidikan Fisika Uin Suka angkatan 2009 juga teman dosen sangat memorable. Terimakasih sayang 🙂

@Purworejo city,,rajanya kota durian!
@Purworejo city,,rajanya kota durian!

Lanjutkan membaca “in Memoriam.. Omi-ku.. Sahabat-ku..”

Diposkan pada Uncategorized

Seminar Proposal Penelitian Skripsi


Bumi Jogja, Sepuluh hari sbelum hari Kartini setelah tahun kemarin ketika matahari tergelincir beberapa derajad dari posisi teriknya.

Terekam detail dari sudut ruangan munaqosyah timur, setiap gurat ketegangan, keseriusan hingga kekonyolan bergulir bertubi-tubi. Hari ini, aku, masih sama seperti kesempatan lalu, duduk di bangku penggembira, bangku penonton. Bangku yang tiada banyak orang menganggapnya spesial untuk dicoretkan menjadi prasasti diri seperti ini. satu dua kali pertama aku bahkan mungkin memiliki detak jantung sama lajunya dengan tokoh utama acara ini, meski pendingin ruangan mampu menyembunyikan peluh dipelipis wajah, aku sama tegangnya dengan apa yang wajah mereka tampilkan.

Dua kali lima belas menit telah berlalu, pemaparan ringkasan proposal dan instrumen dari masing-masing empunya judul berlalu  menyisakan beberapa tanda menggeliat minta ditanyakan pada sesi berikutnya, sesi tanya jawab. bla.. bla.. bla.. Satu per satu pertanyaan selamat dari predikat bodoh setelah terlontarkan, entah itu dalam bingkai keingintahuan yang hebat atau sekedar efek kemalasan mencari jawaban secara mandiri di referensi.

Sesi paling ditunggu adalah sesi pamungkas, sesi kupas tuntas semua kegalauan yang masih tersisa dari berlembar tebal proposal tokoh utama ruangan ini. Semoga berkah, semoga berkah, semoga berkah sampai saat aku menjadi tokoh utama dalam tahap perjalanan ini, target April periode 2,,pembaca yang cantik/ ganteng hatinya doakan besok seminarku lancar ya. Aamiin, aamiin, aamiin, jazakumulloh,,thank n think you 🙂