Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Salut


Sore itu, senja masih diguyur hujan dengan begitu takdzimnya, saat aku duduk di peron stasiun besar kereta api Yogyakarta. Suasana sahaja khas daerah istimewa yang sudah lama tidak kukunjungi ini pun menyelusup hingga ke relung hati. Membuatku merasa damai sekali hingga aku bertemu dengannya. Lanjutkan membaca “Salut”

Iklan
Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Satu Kata Lima Huruf Haruku


Semangat pagi tuan dan puan, semoga sepanjang hari menyenangkan! Hari masih gelap saat Ibu berkata, “ceria sekali pagi-pagi, kenapa ya?”, dalam Bahasa Jawa. Hihi. Tidak ada rahasia diantara kami. Aku dan Ibuku. Satu diantara dua yang paling berhak tahu seluruh kisah hidupku, saat ini.

Orang kedua setelah Ibu ialah Bapak, ah.. lima huruf satu kata penuh haruku ini, hari ini akan jadi sesi curhatku bersamanya. Seperti yang sudah-sudah, di setiap kesempatan kami bertemu, menyenangkan sekali bukan, mendapatinya semakin hari semakin mencermati apapun yang kuceritakan. Adakah ini yang orang bilang semakin tua seseorang semakin lembut hatinya itu? Bapakku, ampun tua dulu tapi. Hehe.

Ya, Bapak bagiku, masihlah orang yang selalu bisa menyisipkan canda tak peduli apapun genre cerita yang kubawa. Satu alasan aku selalu menantikan sesi curhat kami. Ditertawakan, sudah biasa. Malah suka, membawa serta relaksasi.

Bapak, aku tahu siapa yang lebih engkau rindukan dariku. Empat bulan tidak bertemu, aku melihatnya. Saat engkau diam-diam mengusap matamu demi melihat seseorang yang duduk disampingku. Anak yang pada akhirnya bisa engkau peluk lagi. Adikku. Adakah benar bahwa sejatinya hati laki-laki lebih lembut dari hati wanita?

Biarlah penduduk bumi membaca catatanku ini. Sekelumit cerita tentang Bapak. Meski begitu, aku jua selalu penasaran, apa yang akan ia sampaikan padaku jika ia membaca tulisan ini. Hahaha. Semoga tidak dibilang alay. Oh, tentu tidak. Bapak bukan ABG yang berasal dari jaman kekinian, tentu ia memiliki besar kemungkinan tidak mengenal kata ini dalam perbendaharaannya bukan? Tetap saja, semoga tidak. 😀

Bapak, jua satu-satunya orang rumah yang tidak pernah protes menjatuhkan semangat saat aku berkesempatan menjadi koki di dapur Ibu. Pernah suatu kali, saat libur sekolah, ingin membuatkannya sayur bening bayam. Masih ingat betul-betul ia hanya berkomentar, “ini sayur bening apa kolak sih?”, dalam bahasa suku kami juga seperti percakapanku dengan Ibu. Qiqiqiqiqi. Tak terbayang bagaimana seandainya ia berkomentar kasar. Boleh jadi aku enggan memasak selamanya. Wkwkwk.

Lanjutkan membaca “Satu Kata Lima Huruf Haruku”

Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Hadyan


Ada yang pagi-pagi sudah pegang sapu, asik sendiri di latar depan rumahnya. Bersama sejuta pesona pagi―semilir sejuk angin, hening suara, dan segarnya dedaunan berembun―di bawah langit bersih bertajuk lazuardi lihatlah, bagaimana seluruh cerita ini dimulai.

Adalah Najmi. Sebut saja begitu. Wajahnya menjadi berseri-seri saat mendengar ada yang memanggilnya. Lirih saja, tapi sudah cukup untuk membuatnya menoleh.

Ialah Hadyan, nama sebenarnya. Anak laki-laki kelas lima sekolah dasar, turun dari sepeda tanggungnya. Pelan-pelan kulihat ia tuntun sepedanya mendekati Najmi kemudian. Perlahan jua ia berjalan setengah menunduk menghampiri Najmi, masih dengan senyum khasnya yang kukira begitu tulus, membuat Najmi dan aku ikut tersenyum. Duhai.. kamu pun pasti mengerti, hanya senyum tuluslah yang bisa membuat siapa saja di sekitaran tulus itu turut tersenyum.

Najmi pun menyapanya jua. Pagi sekali, rajin sekali, begitulah isi sapaan itu, sebelum aku terenyuh melihat adegan apa kemudian. Hadyan mengulurkan tangannya. Salim. Masya Allah, anak ini.. santun sekali..

Tahukah kamu, Nak. Jika boleh aku mewakili apa yang hendak Najmi sampaikan padamu, ia bahagia. Mendapati anak sesantun Hadyan, Najmi besryukur sungguh. Engkau mungkin masih anak-anak, tetapi Hadyan telah mengingatkanku dimana aku tinggal dan apa yang tidak boleh aku sepelekan.

Lanjutkan membaca “Hadyan”

Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Apakah Bulan Seorang Wanita (?)


Bulan.. apakah menurutmu dia adalah seorang wanita? Wanita yang begitu sempurna hingga dalam puisi-puisi tentang kami sering diibaratkan sepertinya? Wanitakah ia hingga di film-film pun seorang ratu diibaratkan sebagai bulan dan matahari sebagai rajanya? Atau kamu juga menganggapnya wanita maka beri aku alasannya?
Bulan, bagiku seperti teman terbaik. Teman terbaik yang selalu tahu kapan dia menjadi diam mendengarkan. Diam menenangkan. Diam memberikan ruang untuk memikirkan sendiri apa-apa yang ia yakin temannya ini tahu apa yang harus dilakukannya.

Bagiku bulan bukanlah wanita tetapi juga bukan seorang laki-laki menjadi simpulannya. Bulan, teman terbaikku. Seperti ketika aku senang menuliskan tentang bulan karena ia selalu hadir menemani. Bahkan di saat matahari bertahta di siang hari, aku yakin bulan ada di peredarannya. Tidak kemana-mana. Bulan ada disana membalas tatapan orang-orang yang menyadari keberadaannya.

Bulan temanku bukanlah seorang wanita, yang ikut menangis saat aku bercerita, yang ikut tertawa ketika aku bercerita, atau yang menasehatiku saat lajurku menyimpang. Temanku ini bukanlah wanita, jika demikian mengapa orang-orang masih suka mengandaikan wanita seperti bulan? Apakah wanita sebaiknya seperti bulan temanku? Selalu diam mendengarkan? Diam melihat? Diam yang penting mengorbit di lintasannya tanpa mengatakan sesuatupun kepada temannya menyapa? Diam dan hanya membalas pandang? Begitukah?

Ah, temanku bulan, apakah kau sedang menjelma sekarang? Aku seperti melihatmu berdiri di muka bumi. Berdiri menjelma sebentuk keindahan lain yang meski begitu bagaimana mungkin aku tidak mengenali bulan temanku, kamu telah menjadi temanku sejak aku memutuskan untuk bercerita tentang semua kisah yang aku sangat malu untuk menceritakan langsung kepada-Nya. Sejak saat itu bukankah sudah sangat lama? Penghujung tahun lalu, ingatkah? Saat aku memutuskan untuk melupakan, bukan, tepatnya mengingat dengan cara berbeda tentang masa-masa lalu. Ah.

Meski engkau menjelma keindahan lain, bulan tetaplah bulan, temanku. Tertakdir untuk menemani dalam diam. Apakah kau menjelma demi berusaha bisa bicara padaku? Jika begitu mari kita bicara, bulan. Ah, tetapi takdir langit telah digariskan. Tugasmu adalah mengorbit bumi mengorbit matahari. Sekeras kau menjelma bentuk makhluk lain kau tetaplah bulan dengan takdirmu.

Bulan, apakah diam adalah pilihan yang baik? Katakan padaku mengapa? Apakah diam adalah lebih baik daripada emas? Kalau begitu aku tidak akan pernah mendengar suaramu bahkan ketika aku punya uang untuk membeli emasmu.

Bulan, meski dengan engkau diam aku memiliki ruang untuk berpikir, untuk menulis, tetapi aku belum juga mengerti apakah diam adalah sebuah pilihan? Bulan apakah aku berbeda? Berbeda karna menganggapmu teman juga karena sempat-sempatnya bertanya padamu hal-hal yang sepertinya anak kecil pun tahu jawabnya? Lanjutkan membaca “Apakah Bulan Seorang Wanita (?)”

Diposkan pada tentang hati dan warna-warninya

Ketika Kita Menikah..


Gambar

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa selalu memandang teduh wajahmu lebih lama dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa selalu melihat senyummu lebih sering dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa selalu dekat denganmu lebih dekat dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa selalu berbagi cerita padamu lebih nyaman dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa selalu menemanimu kemanapun engkau ingin melangkah dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa senantiasa khusyuk berdiri di belakang shaf-mu di setiap sunnah dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa bercanda lebih konyol dari saat kita menjadi teman..

Maka di setiap hariku,
aku akan bisa menuliskan mimpi lebih banyak dari saat kita menjadi teman..

Maka,
akan banyak maka di setiap hariku, yang ketika itu bersamamu, bagiku semua adalah indah,

adalah bahagia,

adalah yang kuingin,

yang kudamba,

dan selalu kuyakini 🙂

Bumi Batas Kota, Kota Berirama, 6 Syafar 1435 H,
Nunna Lita