Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Dunia Tanpa Matematika


Hari itu, kamis manis. Menjadi manis karena pertemuanku dengannya. Seorang murid baru. Manis bukan karna parasnya saja yang manis melainkan manis lebih karna pengalamannya. Tentang kota-kota yang pernah ia tinggali dan bahasa-bahasa daerah yang telah ia pahami di usianya. Manis sekali berkesempatan mengenalnya.

Satu hari lalu, kamis itu pun terasa begitu optimis. Bahwa aku ingin sekali bisa membantunya menemukan jawaban atas pertanyaannya. Ya, takdir pertemuan kami membawa serta sebuah pertanyaan sedari kecilnya, kepadaku. Pertanyaan yang belum jua terpenuhi jawabnya itu, melesak sudah di nurani.  Adakah dunia tanpa matematika? Lanjutkan membaca “Dunia Tanpa Matematika”

Iklan
Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^, Uncategorized

Bidadari itu…


Assalamu’alaikum sahabat wordpress.. lama diri tiada berkunjung kemari. Jika ini rumah, pastilah rumput di halamannya sudah meninggi, lantainya berdebu, dan agaknya benar aku rindu. Bukan rindu menggebu, hanya rindu menulis disini, dan bersama catatan lama ini, semoga rinduku membawa serta pemahaman yang baik tentang, bidadari itu….

oOo

Mataku basah membaca dialog ini. Dialog panjang tentangmu, tentang Islam memuliakan dirimu. Sebuah dialog yang bermula dari Surah Ad-Dukhan ayat 54, “Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.”

 

Adakah kamu juga bermata basah setelah membaca ini? Sampaikan padaku, aku akan senang mendapati diriku ditemani. Lanjutkan membaca “Bidadari itu…”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kamu Hebat


Anak-anak itu.. kita tidak pernah tahu hari berat apa yang telah mereka lalui. Hingga saat dunia memberitahumu melalui seseorang, apakah matamu juga akan basah seperti yang terjadi pada diriku?

Sore itu, aku bertemu dengannya. Tidak ada yang aneh kecuali ia sedikit lesu. Hingga satu setengah jam berlalu, ia pun pulang dan aku tidak mengingat ada yang perlu dikhawatirkan dengan sikapnya padaku. Semua berjalan biasa saja.

Hingga suatu hari, dalam pesan-pesan panjang melalui telepon genggam antara aku dan Ibunya, tulisan ini bermula. Lanjutkan membaca “Kamu Hebat”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Bolehkah Memakai Kain Sutra dan Semisutra (?)


Adakalanya hati ini bahagia ketika pertanyaan yang dimilikinya terjawab tanpa perlu bertanya. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu bahkan teramat sederhana, seputar kegiatan hidupku sehari-hari. Maka pertanyaan itu pun menjadi awal sebuah pencarian hati tentang apa yang sebaiknya dilakukan, bagaimana seharusnya, dan bagaimana tuntunannya.

Kini, sepertinya hati kian dimanja untuk menjemput jawaban dengan mudah. Ialah mesin pencari atau search engine yang kian hari semakin komplit memetakan denah rumah-rumah tulisan yang bisa dikunjungi silently. Tanpa perlu khawatir ditertawakan atas pertanyaan yang dimiliki.

Beruntunglah ia yang terlebih dahulu tahu mengenai siapa penulisnya, latar belakang keilmuannya, siapa guru besarnya, sehingga kita nyaman untuk membaca karyanya. Tetapi sungguh, seperti sebuah nasehat bahwa nasehat itu lebih dari sekedar dari siapa yang menyampaikan, tetapi apa yang disampaikan, maka tidak ada yang salah dari membaca, tulisan beranonim sekalipun. Asal membaca lebih dari satu rumah, kita bisa menarik simpulan-simpulan, bahwa ada banyak pemikiran tentang sebuah pertanyaan.

Dari mesin super keren itu, kita bisa mengetuk banyak pintu rumah tulisan. Setidaknya kita juga akan malu karena ternyata telah banyak yang tahu akan jawaban pertanyaan sederhana kita, bahkan telah banyak yang mau untuk menulisnya. Aku pun malu jika enggan untuk mencari tahu kemudian mau menulisnya.

oOo

Catatan ini bermula dari pertanyaan, ‘Bolehkah seorang muslim (laki-laki) memakai baju yang terbuat dari kain sutra dan semisutra?’. Sebuah pertanyaan yang seketika mengganjal di hati ketika akan menggelar lapak baju online-ku di Nunna Lita online shop, apakah jika aku menjualnya hanya akan mempersulitku kelak? Naudzubillah, jadilah aku harus tahu dulu. Lanjutkan membaca “Bolehkah Memakai Kain Sutra dan Semisutra (?)”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kepo: in A Little Research


Kepo itu apa? Berawal dari pertanyaan bodoh (baca: pertanyaan yang tidak pernah dicari tahu jawabannya_red), aku ingin menjadikannya pertanyaan iseng. Bersama efek dari baca artikel penelitian kecil yang pernah dilakukan oleh teman redaksi BIG BANG−buletin BEM-PS Pendidikan Fisika UIN SUKA−dan suka nonton Cak Lontong, jadilah beberapa waktu lalu kulemparkan saja pertanyaan itu pada teman-teman responden #hehe 😀

 

Responden? Memang ada yang mau jawab pertanyaan kayak gitu? Wuih, Alhamdulillah ya, cukup merinding juga waktu sadar kalau yang jawab ini orang-orang hebat (di bidang masing-masing 😀 ). Mereka adalah keluarga, sahabat, dan teman-teman. Jika latar belakang pendidikan perlu dicantumkan, ada ahli madya, sarjana, dan magister juga yang mau menjawab #hihi, terimakasih ya semua 🙂 🙂

oOo

Tadinya mau cuek sama arti kepo. Tapi gemes juga kalau lihat/dengar/baca, “Ih, kok kepo sih!” Duh, memang kepo itu apa? Booming banget! Apa ndak ada ya kata di KBBI yang lebih sopan didengar untuk menyampaikan kekurangnyamanan atas pertanyaan seseorang?

 

Kalau boleh menyimpulkan sendiri dari awal, aku lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan bilang seperti itu. Tidak karena aku tidak suka dibilang seperti itu, jadi aku tidak mau bilang seperti itu. Titik. Tapi ternyata aku masih penasaran, apa ya yang dipikirkan teman-teman tentang kata ‘aneh’ ini #hehe 😀

oOo

Keingintahuanku itu pun kukemas dalam pertanyaan singkat ‘Kepo itu apa?’, hanya saja aku ndak pingin dapat jawaban panjang. Dari sini muncul keisenganku yang lain, buat saja ketentuan menjawab pertanyaan hanya dengan satu kata #nahlo 😉

Akhirnya, jawaban dari 42 responden kurasa cukup untuk mengartikan kepo itu baik atau kurang baik. Nanggung memang, kenapa tidak 100 orang sekalian 😀 Mengingat keterbatasan waktu luang bla.. bla.. bla.., maka jeng.. jeng.. ini hasilnya 🙂

empat puluh dua responden menjawab kepo itu..
empat puluh dua responden menjawab kepo itu..

oOo

 

Seperti yang bisa kita lihat dalam grafik, jawaban terbanyak adalah ‘penasaran/curious’. Alasan ini positif banget ya, jika penasaran adalah satu dari tanda-tanda kecerdasan, maka kepo jenis ini.. bolehlah-bolehlah *pake gaya Jarjit* 😀 Lanjutkan membaca “Kepo: in A Little Research”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Kerbau


Bumi Batas Kota, Juni 22

Pagi itu tidak ada yang istimewa, hanya aku berjodoh melihat empat ekor kerbau penuh lumpur dalam perjalanan sunyiku, bersepeda. Tidak benar-benar sunyi memang, karna headset bertengger di telinga. Tetapi tetap saja sunyi, karena aku sendiri, dan melihat kerbau adalah bagian istimewa yang ingin kuceritakan.

Di tahun 2014 ini aku kira kerbau sudah punah. Hewan gendut, lamban, dan abu-abu itu ternyata masih eksis dan mereka masih saja lucu dilihat, bahkan setelah aku bukan anak-anak lagi 🙂

Melihat kerbau mengingatkanku pada cerita Ibu. Bagaimana beliau justru mengklakson barisan kerbau padahal Budhe yang dibonceng bilangnya jangan mengklakson. Perut salah satu kerbau pun tak terhindarkan. Ia yang karena kagetnya diklakson sekonyong-konyong melintang di tengah jalan. Cerita ini selalu lucu di imajinasi, dan melihat kerbau pagi itu membuatku gemas dengan perut kerbau. Cerita ini mengingatkanku betapa, nasehat itu.. sebaiknya tidak menggunakan kata ingkar, bukan? 🙂 Lanjutkan membaca “Kerbau”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Book Your Status :D


Aku pernah baca. Tulisan yang menyindir dengan sangat-sangat halusnya. Tentang berapa banyak status yang dibuat dalam satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Jangan-jangan sudah jadi buku berjilid-jilid (bla.. bla.. bla..) #ahaha 😀

Jadi, bukan orang iseng namanya kalau enggak pingin membuktikan berapa banyak lembar sebenarnya buku yang bisa dibuat dari status facebook-nya. Well, proyek iseng baru pun dimulai: menyalin satu demi satu status yang pernah ku posting #hihih 😀

Tidak banyak yang terkumpul, banyak yang hilang seiring waktu menumpuknya dengan status-status baru di timeline. #dasar penulis status :v

Oke fine. Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun yang ditulis orang. Silahkan. Seberapaseringpun mau menulis. Jika gajah punya gading maka manusia bisa menulis 🙂 🙂

Hanya saja, jika suatu hari kita punya waktu luang, pernah ndak sih terpikir, bagaimana jika status-status itu benar-benar dibukukan? Akan jadi buku apa milikku? Kumpulan inspirasikah? Kumpulan komedi? Atau justru kumpulan keluhan? Hujatan? Galauan? #hayohayo :p

Santai. Itu cuma pertanyaan retoris, kok. Tidak perlu dijawab! #ehehe 😀

===

Lalu bagaimana sebaiknya? Di satu sisi aku senang menulis, apa aku harus berhenti menulis? Oh no! No! No! No! 😉

Mengutip tulisan pujangga dulu ah: Lanjutkan membaca “Book Your Status :D”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Maaf atau Terimakasih: Catatan untuk Sahabat


Gambar

Maaf dan terimakasih, tahukah kamu dua kata ini memiliki makna yang serupa? Di situasi apapun. Kepada siapapun. Kapanpun. Kata maaf dan terimakasih saling bisa menggantikan.

Maaf dan terimakasih, nyatanya di kehidupan kita sehari-hari pernahkah kamu menghitung kata mana yang lebih sering diucapkan? Sejenak mengingat, kata mana yang lebih sering disampaikan? Mengapa?

Maaf dan terimakasih bagiku, berarti ungkapan yang sama-sama mengungkapkan penyesalan. Sesal untuk sesuatu yang kemudian hanya bisa bilang maaf, atau justru berterimakasih untuk mau memahami.

Kata maaf lebih sering kudengar di sekitaran. Entah ini adalah buah kebiasaan nenek moyang atau memang karena mental kami sebatas maaf. Aku meyakinkan ini adalah kebiasaan yang bisa diperbaiki. Kata maaf, hanya maaf, hanya menyisakan kepedihan. Bagi yang meminta maupun yang dimintai. Maaf untuk.. apapun.. kepada siapapun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah tempat salah dan khilaf. Tetapi apakah berarti manusia hanya berhak untuk meminta maaf saja? Bagaimana bisa hanya meminta maaf saja? Maaf saja?

Aku sudah lama memikirkan ini. Lebih dari dua tahun memikirkan dua kata ini. Maaf dan terimakasih nyatanya aku menemukan hubungan saling melengkapi. Kata maaf tidak bisa berdiri sendiri. Begitu juga kata terimakasih.

Tahukah kamu, sungguh catatan ini bukan untuk menggurui siapapun. Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kupikirkan dalam kedangkalanku mencoba menarik benang merah dari kedua kata itu selama ini.

Dari apa yang kulihat, kualami, maupun kudengar sepanjang aku mau memikirkannya. Tidak banyak orang menyesal dengan kata terimakasih. Ratap sesal mereka hanya menghunus pada kata ungkapan maaf. Maaf saja. Lalu apa? Apakah kamu juga? Bagaimana dengan maaf dan terimakasih. Atau berterimakasih saja?

Sungguh kata terimakasih lebih nyaman untuk didengar. Mereka tidak membutuhkan permohonan maaf kita. Cukup mengetahui kita menyesal sudah sangat melegakan. Kemungkinannya. Ungkapan maaf terbaik yang kupelajari selama ini bukan dengan mengatakan kata maaf itu secara eksplisit.

Di dunia ini bukankah ada begitu banyak padanan kata yang bisa dipilih untuk menjaga hati mereka yang mendengarkan? Yang dimintai?

Ya padanan kata nyatanya sangat dibutuhkan untuk urusan penyesalan ini. Kata maaf dan terimakasih. Bagaimana kamu memandangnya? Bukankah keduanya sepadan? Menyesal adalah jalan kembali terbaik kepada cahaya. Sejauh apapun itu jalan keliru yang ditempuh. Menyesal dengan terimakasih bagiku, seperti mengungkapkan bahwa mereka telah begitu berjasa dalam perjalanan menuju sebuah penyesalan. Mengatakan terimakasih adalah maaf terindah sepanjang pemahamanku. Bagaimana mengatakannya.. berterimakasih adalah maaf yang disertai dengan semangat untuk memperbaiki. Begitulah yang akan terbentuk di batin mereka yang dimintai. Lanjutkan membaca “Maaf atau Terimakasih: Catatan untuk Sahabat”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

UIN Sunan Kalijaga: a Memory to Remember


Kuliah di Kampus Putih bukanlah cita-citaku (pada mulanya). Jika bukan karena aku tidak diterima di rentetan daftar PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang kujajali. Mungkin aku takkan pernah mengeja nama kampus ini dalam buku panduan SNMPTN (Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri) tahun 2009 silam.

Bersama pilihan pertamaku mengambil jurusan yang sama di UNY, akhirnya kuturunkan kenaifan diriku mengakui bagaimana kemampuanku, demi yang penting bisa melanjutkan belajar di kampus negeri. Akhirnya kupilih dengan harap-harap cemas kampus kebanggaanku kini, UIN Sunan Kalijaga yang nyatanya bisa begitu kurindukan sekarang.

Bagaimanalah, kuliah di kampus bernapaskan Islam sebagai azasnya sungguh membuatku minder di tahun-tahun pertama. Mengingat background study-ku sama sekali tidak bermadrasah, amboi.. ternyata manusia UIN mau menerimaku dengan begitu ramahnya.

Senyum senior saat placement test baca al Qur’an misalnya, masih terekam manis sampai sekarang. Oh God, begitu indahnya jalan yang Engkau pilihkan untukku, mengingat siapa aku di masa lalu.. Ah.. aku hanya pantas berterimakasih pada-Mu 🙂

Mengapa begitu berterimakasih? Karna kuliah di kampus Islam negeri termurah itu.. Lanjutkan membaca “UIN Sunan Kalijaga: a Memory to Remember”

Diposkan pada muhasabah diri yukk ^_^

Habis Lulus Kuliah Mau Ngapaiiiiin (?)


Pertanyaan klasik.  Selalu muncul di berbagai kesempatan. Lalu tidak bisa menjawab? Aneh kan! Padahal pilihannya begitu sederhana. Hanya dua. Menjadi bos sejati atau kuli sejati. Pilihan pertama inilah yang menjadi favoritku sehingga selalu kuulang-ulang dan kuyakinkan setiap hari. Terlepas dari pertanyaan bodoh yang jika itu sulit dijawab maka, aku punya cerita yang sangat keterlaluan aneh untuk dilogika dengan baik sepanjang aku mulai memikirkannya sampai detik ini.

Dua keluarga, harmonis,bahagia, dan masing-masing memiliki anak yang sudah dewasa. Anak dari keluarga pertama adalah keluarga pegawai negeri tetapi ketika ditanya habis lulus kuliah mau ngapain? Jawabnya adalah tidak mau menjadi pegawai negeri sedangkan, anak keluarga ke-dua adalah dari keluarga pegawai swasta, eh justru getol banget pingin jadi PNS!!! Dunia..

Jika tidak aneh bukan dunia namanya dan satu diantara anak itu adalah: aku. Meski tidak segetol kesan getol yang kutuliskan, benar kalau aku punya keinginan buat jadi PNS. Buruh pemerintah. Keinginan itu muncul setelah melihat background keluarga PNS yang sepertinya memiliki alur kehidupan yang tenang, sama sekali tidak bergejolak. Selalu mengalir seperti itu-itu saja, mulus sekali. Sedangkan aku, dibesarkan dalam keluarga pegawai swasta tentu membuatku seperti sedang berselancar di arus kehidupan kami yang bisa dibilang sangat menantang. Naik-turun-naik, sungguh tidak ada yang menjamin kehidupan kami akan menjadi seperti apa kecuali-Nya.

Yap, kini mari melangkah menuju judul utama: Habis Lulus Kuliah Mau Ngapaiiiiin (?) Pertanyaan yang rasa-rasanya pelik untuk dijawab. Tetapi katakan: tidak bagiku! Tentu karna pilihan telah disederhanakan menjadi dua seperti kusebut di paragraf pertama.

Pilihanku adalah menjadi bos sejati. Pemilik usaha dengan para pekerja. Sangat menarik bagiku. Membantu orang menjaga kepulan dapur mereka, rasanya begitu mulia karena aku bisa menjadi the Real Superhero melalui pilihan ini, yeah.

Usaha -> Pengusaha -> Butuh modal -> Uang -> Mainset kuno. Iya sih ada pepatah Jawa bilang: ‘Jer basuki mawa bea’ (Untuk memperoleh keselamatan/kesejahteraan membutuhkan biaya). Tetapi ingatlah, kita telah diberi-Nya modal gratis yang begitu luar biasa besarnya. Ialah mata, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, dan setiap anggota yang melekat menjadi kita. Sudah berapa digit angka saja jika dinominalkan telah menjadi modal gratis dari Alloh SWT? Mengingat ini bertasbihlah dulu yukk mari, Subhanalloh 🙂

Bukan uang yang menjadi modal utama, tetapi niat tetapi semangat. Sok tahu banget ya aku ni? Mau bagaimana lagi, aku sudah membuktikannya. Benar bahwa ‘Aku adalah prasangka Hambaku’ dan ‘Kata-kata adalah do’a’. Benar, teman. Hukum ini sungguh bekerja. Buktikan saja! Setiap niat, setiap semangat selalu diberikan banyak jalan, Insya Alloh.

Kabar baik selanjutnya yang ingin kubagikan adalah modal terpenting berikutnya, yaitu menjadi ramah. Modal yang selanjutnya kusebut jurus sejati inilah yang harus terus-menerus dijaga. Menjadi ramah seramah-ramahnya tentu, bukan ramah dibuat-buat ramah. Berbeda. Ramah seramah-ramahnya membuat orang betah berinteraksi sedangkan, dibuat-buat memenatkan hati.

Lalu mengapa memilih menjadi bos sejati-sebuah nama lain dari pengangguran banyak usaha alias pengusaha? Satu yang menjadi alasan terbesarku yaitu teladan kekasih Alloh, Baginda Rasululloh SAW. Beliau juga seorang pengusaha. Seorang pedagang berjuluk al-Amin buah atas kejujuran yang selalu diteguhkan setiap melakukan ijab-qabul.

Ngaji dulu, yukk! Berikut ada beberapa hadits mengenai berdagang dan bekerja secara halal, disimak sama-sama ya! 🙂 Lanjutkan membaca “Habis Lulus Kuliah Mau Ngapaiiiiin (?)”