Diposkan pada CerPenku

Dear My Precious Dear


Tiada selapis awan pun malam itu. Langit bersih. Latar yang sempurna bagi para bintang bersinaran berteman cahaya rembulan.

Adalah Sabil, anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara di keluarganya, tengah duduk takzim di gundukan batu besar pinggiran kali batas desa. Tidak ada yang lebih istimewa dari lukisan langit kecuali gemericik air dan hamparan padi satu-dua ratus batang masih tampak rimbunnya di seberang kali.

oOo

Anak itu, satu-dua kali menghela napas panjang. Pikirannya masih dipenuhi tentang apa yang akan ia lakukan pada kertas yang sedari tadi ia genggam. Lanjutkan membaca “Dear My Precious Dear”

Iklan
Diposkan pada CerPenku, lita lite

Pagi Juli


Selamat pagi! Sang pencinta pagi selalu bangun pagi. Tidak peduli selarut apapun ia tidur, ia selalu mengerti bahwa udara sejuk bersama lukisan fajar terlalu menyenangkan untuk ditukar dengan nikmat palsu bertajuk bangun kesiangan.

oOo

Pagi selalu menyenangkan. Satu hal yang sedang kupelajari dari sang pencinta pagi itu. Seorang gadis yang sekelumit kisahnya di suatu pagi di bulan Juli hendak kuceritakan padamu melalui catatan ini.

Demi dialah gadis yang lebih suka menikmati sebuah pertanyaan tentang apa yang akan ditakdirkan langit untuknya di hari itu daripada sekedar memikirkan apa-apa yang bisa ia lakukan, menenangkanku. Seseorang dengan kebiasaan meluangkan beberapa menit di hidupnya untuk menatap langit dan menghirup-helakan nafas lebih panjang dari biasanya beberapa kali di waktu fajar, menentramkanku. Juga demi gadis yang sama yang selalu bersenyum ketika ia menemukan bulan masih terlihat, bintang masih bertabur, pun saat tidak satupun dari mereka ia temui, membuatku tersenyum.

Sebuah senyum yang hanya saat kamu melihatnya sendiri kamu akan mengerti bahwa semua itu adalah caranya menggubah energi syukur menjadi semangat pagi. Sebuah semangat baru yang selalu bisa dimulai dengan wajah berseri-seri.

oOo

Pagi itu, jam tanganku menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Artinya jadwal keberangkatan rangkaian gerbong kereta ekspres paling pagi di jalur nomor tiga tinggal lima menit lagi.

Aku sudah duduk di bangku menghadap ke utara saat aku melihat gadis itu berlarian kecil menuju pintu masuk stasiun terbesar di kota kecil kami. Tanpa memegang tiket, sepertinya, ia sedang berusaha menjelaskan pada petugas pintu bahwa ia berhak masuk peron.

Aku tidak mendengar percakapan mereka, tetapi jarak antara jalur rel nomor tiga dengan pintu masuk peron terlampau dekat untuk melihat bahwa gelengan kepala petugas peron itu mewakili banyak penjelasan. Gadis itu mana mungkin boleh masuk tanpa tiket! Lanjutkan membaca “Pagi Juli”