Diposkan pada Fisika menyenangkan :)

Aku dan Fisika

Selamat pagi anak-anak Najmi πŸ™‚ Selamat mendaftar ke sekolah yang lebih tinggi bagi yang baru saja lulus. Semoga lolos ya!

Momen-momen mendaftar sekolah seperti ini membuatku ingin bercerita. Cerita tentang aku dan Fisika. Ada apa dengan Fisika? Ialah satu-satunya. Yap, Fisika. Mata pelajaran yang kudapati untuk kali pertama di bangku SMP. Kamu tahu? Aku bersekolah di SMP terfavorit di kotaku. Apakah aku bangga? Sedikit. Sisanya? Aku bersyukur karenanya aku memiliki teman-teman keren di hidupku. Teman yang sudah jadi dokter, abdi negara, pengusaha sukses, maupun ahli-ahli, meskipun aku masih apalah-apalah. Hehehe πŸ˜€

oOo

Aku tidak akan mencantumkan tahun berapa aku masuk ke SMP-ku. Bukan karena takut kelihatan tua melainkan aku lupa, hehehe. Okelah, sebut saja sekitar 12 tahun lalu, alhamdulillah aku diterima di sekolah itu. Tidak banyak yang kuingat, saat itu aku justru sedih karena tidak banyak teman se-SD yang mau masuk kesana. Hanya beberapa orang, membuatku menyadari sesuatu. Sahabat jugalah penting dalam memilih sekolah. Tapi tidak apa-apa, aku pasti akan menemukan banyak sahabat baru disini, keyakinanku.

Oya, bersekolah di SMP favorit juga banyak tantangannya. Jika kamu siap menghadapi semua poin ini, kamu layak mendaftar kesana. Satu, kamu akan mendapati banyak pesaing tangguh dalam bidang akademis maupun non akademis. Tidak satupun anak yang berleha-leha di sana. Semua memiliki kilat semangat membara dalam menimba ilmu. Tentu saja kecuali yang tidak, hehehe.

Dua, jika kamu memiliki sifat rendah diri a.k.a minder karna keterbatasan ekonomi atau apa yang tak ketulungan maka lebih baik kamu mundur saja. Mengapa? Karena siapa yang peduli? Prestasi nomor satu disana. Jadi jika kamu benar-benar ingin, kuatkan hati, percaya diri!

Tiga, kamu akan mendapati teman-teman yang diantar-jemput supir pribadi atau para orang tua yang super peduli kepada anaknya. Jadi jika kamu mudah silau dengan gemerlap dunia, kamu pilih saja sekolah yang lain, haha.

Cukup tiga poin saja mengapa hanya anak-anak tangguh yang bisa bersekolah disana. Aku tidak tahu apakah aku juga tangguh, tapi aku pernah mendapati diriku bersepatu dan tas sobek berlubang dengan uang saku lima ratus rupiah yang pada saat itu hanya cukup untuk membeli es atau kletikan sebungkus. Dulu tentu berat, tapi kini jadi ingatan menyenangkan πŸ˜€

oOo

Setelah berjibaku dengan MOS, penantian seragam dijahit jadi, aku mulai mendapatkan pelajaran-pelajaran. Satu diantaranya ialah mata pelajaran yang menjadi judul cerita ini, F-I-S-I-K-A. Jika itu adalah nama teman perempuan maka ia akan cantik sekali secantik namanya ya, hehe πŸ™‚

Apa itu Fisika? Di SD tahunya IPA saja. Baiklah, ternyata Fisika mengambil peran dalam mempelajari IPA selain yang dipelajari di Biologi :p

Yap, Fisika bagiku saat itu adalah mata pelajaran baru. Masa dimana aku tidak pernah tahu aku akan mengambil jurusan Pendidikan Fisika di S1-ku. Hihi πŸ™‚

Awal perjumpaan dengan Fisika terasa menarik perhatianku. Guru pertamaku adalah Bu Iis (nama lengkapnya lupa πŸ˜€ ). Beliau satu dari favoritku. Mengapa? Tentu karena selain kata-katanya mudah dicerna, nilai ulangan harian pertamaku adalah sepuluh, horeee πŸ˜€ πŸ˜€

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari mendapat nilai sepuluh di SMP favorit. What an awesome time! Hatiku girang segirang-girangnya.

Kamu tahu apa yang terjadi setelah itu? Ini adalah poin penting dari ceritaku. Cerita mengapa ada kata penghubung DAN di antara kata Aku dengan Fisika yang membuat hubungan kami istimewa sampai saat ini. Itu semua karena selepas jam belajar sekolah selesai, aku terluka badan karena Fisika.

Β 

oOo

Β 

Aku masih girang saat keluar kelas. Masih girang juga saat mengayuh sepeda menuju rumah Ibuk Bapak. Sudah sangat ingin mengatakan pada Ibuk tentang nilaiku. Nilai ulangan Fisika bab satu, Besaran dan Satuan.

Β 

Sayang seribu sayang, perasaan terlampau bahagia tidaklah baik untuk kesehatan, teman-teman. Semua karena hingga kira-kira lima meter sebelum sampai pelataran rumah, peristiwa itu terjadi. GEDUBRAKKK! Aku jatuh masuk selokan.

oOo

Tepat di depan rumah orang tua Oom Ipar, roda sepedaku penyok ditubruk motor dari arah berlawanan, hahaha. Dulu sakit sekarang bisa jadi cerita pengundang tawa, begitulah hidup. Ada masa dimana suatu ujian terasa begitu sulit menjadi manis seiring berjalannya waktu.

Saat itu aku masih ingat betul apa yang kuteriakkan, β€œBUUULIIIIIIIIIK!!!” Bukan Ibuk tapi Bulik. Ini karena aku sempat melihat Bulik berdiri di teras rumah itu sambil menggendong bayinya. Setelah itu aku sadar sepedaku sudah pindah jalur ke air, haha πŸ˜€

Malu, aku malu sekali rasanya dikerubungi orang-orang yang entah datang untuk menolong, khawatir, atau sekedar ingin menonton. Satu yang pasti aku MALU. Salahku nekat menyeberang tanpa mengerem. Di belakang mobil aku seharusnya berhenti dulu, tapi aku justru begitu saja menoleh untuk memastikan keadaan belakangku aman tanpa melihat ke samping kanan mobil. Tanpa mengeremlah biang keroknya, aku tidak tahu ada motor melaju dari arah berlawanan. Oh sepeda biru kesayanganku, maafkan aku, huhuhu 😦

oOo

Kamu tahu apa yang istimewa dari orang Jawa? Untung. Mereka punya kata untung sehabis diberi ujian. Untung inilah, untung itulah, begitulah. Aku beruntung cuma roda dan bodi sepedaku penyok. Beberapa lecet dan tulang linu terasa sore harinya tidak begitu menyedihkan daripada aku harus menahan euforia nilai Fisikaku, padahal aku masih ingin memberitahu orang rumah tentang itu. Sedih.

oOo

Baiklah, mari kita selesaikan poin ini dengan cepat. Setelah si Bapak pengendara sempat menegur memarahi)-ku. Setelah ia berjanji akan memberi kompensasi (meski aku yang salah), semua selesai. Dunia rumah pun tahu alasan mengapa aku tergesa, ahahaha πŸ˜€

Selepas peristiwa itu, Fisika menemukan tempat tersendiri di hatiku. Istimewa. Satu-satunya pelajaran yang pernah membuatku girang segirang-girangnya. Satu-satunya yang juga membuatku terluka. Di SMA, Fisika jugalah yang membuatku kesulitan hingga mengambil les di luar. Fisika oh Fisika, ia terasa menyenangkan saat aku bertemu Guru Fisika super asik di kelas XII IPA 4, Bu Dwi namanya. Ia tegas, membuat tegang, tapi aku justru mudeng dan perlahan menyukainya (menyukai Fisika dan cara mengajar Bu Dwi), hehehe πŸ™‚ πŸ™‚

Fisika pun menjadi satu-satunya yang membuat aku β€˜mimisan’ belajar Termodinamika, Elektrodinamika, Fisika Statistik, dan sederet mata kuliah ke-Fisika-an lainnya, oh.. oh.. oh.. Tentu β€˜mimisan’nya tidak dalam arti sesungguhnya. Hanya sangat pening saja, hehehe πŸ˜€

oOo

Selepas masa belajar panjang itu, kini aku berbahagia memiliki Fisika di hidupku. Bercerita tentang Fisika kepada anak-anak, berdemonstrasi bahwa Fisika itu asik dan menyenangkan, semuanya membuatku lupa akan rasa-rasa sakit di masa lalu.

Terimakasih Fisika, kamu sudah memberiku banyak cerita menyenangkan (pada akhirnya). Sudah memberiku kesempatan belajar ilmu-ilmu lain di kampus demi bisa mengajarkannya kepada putra-putriku kelak (aamiin). Inilah aku dan Fisika. Bagaimana denganmu dan Fisika? πŸ™‚

Β 

Ditulis selepas bersepada pagi, di Bumi Batas Kota, 12 Ramadhan 1436 H

-Nunnalita

Β 

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

18 tanggapan untuk “Aku dan Fisika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s