Diposkan pada CerPenku

Dear My Precious Dear

Tiada selapis awan pun malam itu. Langit bersih. Latar yang sempurna bagi para bintang bersinaran berteman cahaya rembulan.

Adalah Sabil, anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara di keluarganya, tengah duduk takzim di gundukan batu besar pinggiran kali batas desa. Tidak ada yang lebih istimewa dari lukisan langit kecuali gemericik air dan hamparan padi satu-dua ratus batang masih tampak rimbunnya di seberang kali.

oOo

Anak itu, satu-dua kali menghela napas panjang. Pikirannya masih dipenuhi tentang apa yang akan ia lakukan pada kertas yang sedari tadi ia genggam.

Ditatapnya lekat-lekat kertas itu lagi. Meski kini sudah tidak tampak lagi hurufnya, namun bagi Sabil yang telah berulang kali membacanya, tidak akan sulit membaca satu kali lagi, surat dari panitia seleksi perguruan tinggi.

Ia lulus seleksi. Kertas itu sungguh menawarkan sebuah janji masa depan yang lebih baik. Janji dari sebuah universitas negeri di ibukota provinsi.

Momen seperti itu seharusnya menjadi momen paling menggembirakan bagi murid yang baru selesai ujian SMA, tetapi mengapa ia justru tercenung menghabiskan senja di pinggiran kali.

Tidak ada yang perlu dicemaskan, aku percaya ia tidak punya sedikitpun niat untuk menceburkan diri ke kali. Lihatlah, hanya kertas itu yang berubah kusut diremasnya. Sudah hampir dilemparnya saat seseorang berteriak memanggil.

“Saaabil!” Suara perempuan. Kakak pertamanya.

“Eh, iya mbak Sakhi. Ada apa?” Kelak Sabil harus berterimakasih untuk dikagetkan hingga kertas itu urung ia lempar.

“Ngapain kamu Bil? Dicari Ibuk tu, habis magrib kok nggak pulang-pulang!”, “Oh iya anu maaf mbak, sekalian nunggu adzan Isya’, hehe.”, “Apa itu?”, “Bukan apa-apa mbak Sakhi, Cuma surat pemberitahuan dari sekolah.”, “Sini lihat!” Saat mbak Sakhi hendak merebutnya, adzan Isya’ mengakhiri percapakapan mereka. Sabil berkelit. “Bukan apa-apa mbak!” Ia pun lari menuju musholla, begitu saja meninggalkan mbak Sakhi yang hanya bisa geleng-geleng kepala berjalan menyusulnya.

oOo

Kini Sabil punya rahasia. Rahasia tentang jalan yang akan ia pilih selepas masa putih abu-abunya. Rahasia itu yang membawanya kini membuka-buka koran di ruang baca perpustakaan SMA. Menuliskan beberapa lowongan pekerjaan yang sekiranya bisa ia coba di buku agendanya.

“Pekerjaan untuk lulusan SMA itu.. ahh.. apa hanya seperti ini-ini saja!” Keluhnya.

Selembar daftar lowongan kerja sudah rapi disalin di buku, Sabil kembali ke kelasnya. Lihatlah, bagaimana ekspresi teman-temannya yang juga lulus seleksi perguruan tinggi. Cerlang secemerlang bintang yang ditatapnya semalam. Tersenyum Sabil melihat seluruh isi kelas. Tidak buruk Sabil! kamu juga bagian dari mereka, batinnya.

“Abbad Sabil!” Suara Pak Min membuyarkan lamunannya.

“Eh, ya Pak?” Sabil menuju meja guru kelas.

“Surat yang kemarin Bapak berikan, apa sudah kamu sampaikan ke orang tuamu?”, “Surat? Ah ya surat itu, saya belum, Pak, maaf” Sabil tertunduk malu.

“Kapan mau disampaikan? Bapak tunggu jawabannya segera, ya!” Pak Min berdiri sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Baik, Pak” Sabil mengangguk dan berlalu.

“Sabil! Bapak percaya belum cukup bagimu berhenti disini. Bapak masih ingat cita-cita yang kamu tulis di awal pertemuan dulu. Tentu Sabil juga masih ingin mewujudkannya, kan? Pak Min menyejajari langkah Sabil, menepuk bahu, mengguratkan sesimpul senyum, dan keluar kelas terlebih dahulu.

oOo

Sabil adikku. Aku juga berharap kamu mengambil tawaran itu. Aku benar-benar berdo’a untuk akhir yang baik atas keputusanmu, karna narasi ini milikku, aku harap cerita ini berakhir bahagia. Aku, Sani, kakak ke-dua Sabil.

oOo

Usia kami terpaut empat tahun, dan aku hanya satu tahun lebih muda dari kakakku Sakhi. Sayangnya, di usiaku yang ke-dua puluh, aku tidak bisa lagi membersamai mereka.

oOo

Dua hari kemudian, Sabil sudah tidak bisa lagi menyimpan rahasianya. Pagi itu mbak Sakhi menemukan kertas kusut itu di laci meja belajar kamar Sabil saat hendak mengambil gunting. “Saaabil.. anak itu benar-benar ya!” gumamnya.

oOo

Mbak Sakhi adalah kakak yang menyenangkan bagiku. Teman curhat terbaik setelah Alloh dan Ibuk. Aku bersyukur Ibu dan Bapak memberiku kakak sepertinya. Setiap aku ingin bercerita tentang masa-masa remajaku, saat aku merasa malu bercerita pada Ibuk, maka aku akan sangat bersemangat bercerita padanya. Cerita yang tentu kubuat lebih heboh dari sebenarnya, demi aku sangat menikmati ekspresi lucunya saat jadi sangat khawatir atau ikut heboh sepertiku, hihi. Mbak Sakhi, aku kangen.

oOo

“Sabil, sepertinya SNMPTN sudah keluar hasilnya, piye le?” Mbak Sakhi mengawali pertanyaannya selepas sarapan.

“Apa mbak? Oh anu, iya, hehe.” Sabil nyengir dan menunduk tidak berani menatap lawan bicaranya seperti kebiasaannya saat menyembunyikan sesuatu.

“Terus?” Mbak Sakhi mulai serius menatapnya sedang yang ditatap mulai salah salah tingkah.

“Ya begitulah, mbak! Sabil berangkat dulu ya Buk, Pak, mbak, assalaamu’alaikum..” bergegas Sabil salim, buru-buru mengenakan sepatu dan menghilang bersama sepeda birunya.

“Sabil.. Sabil.. Buk, Pak, tau ndak, dia itu diterima SNMPTN-nya masuk. Ini suratnya Buk, Sakhi nemu di lacinya. Sepertinya ini kertas yang mau dibuang waktu Sakhi lihat Sabil di pinggir kali kemarin-kemarin, hmmm..” Mbak Sakhi lapor pada Ibu dan Bapak. Berharap dengan membaca surat itu bisa menjadi kabar bahagia pertama di pagi itu.

Benar, Ibu terenyuh, air mata mengalir di pipinya, sedang Bapak terkekeh manggut-manggut menyebut nama Sabil. Sabil.. Sabil.

Byuh byuh Nduuk.. adikmu lulus Nduk, duh Pak, piye iki? Ibuk ya mung iso ngestoni yen Tole arep kuliah, nanging Bapak isih kudu berurusan sama pejabat itu, apa dia masih nyuwun Bapak tanggung jawab sama yang bukan jadi tanggungan Bapak, to?” Wajah cerah Ibuk pias. Kecemasan itu mengungkungnya lagi.

oOo

Ya, Bapak sedang diuji. Satu alasan yang mungkin sangat membebani Sabil menyampaikan surat itu. Bapakku adalah pekerja swasta. Saat ini beliau diminta mengembalikan uang perusahaan yang katanya beliau gunakan untuk kepentingannya sendiri. Padahal setauku, ia justru melepas motornya untuk membantu menutupi kekurangan perusahaannya itu, meskipun begitu kini beliau masih diminta melunasi sisanya. Masya Alloh..

Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengenyangkan perut orang dzolim itu. Aku hanya bisa berdo’a semoga keluargaku mampu melalui ujian ini dengan baik.

oOo

Minggu pagi dimanfaatkan Sabil untuk merumput pakan kambing Bapak. Ia telusuri tegalan sepanjang kali dengan sabit di tangan kanannya dan karung goni di bahunya.

Setelah karung penuh diisinya, Sabil biasa melepas lelah sejenak di batu besar pinggiran kali. Kebiasaan yang siapapun orang rumah tahu. Seperti itulah mbak Sakhi menemuinya disana. Ia duduk di batu besar lain di sebelah Sabil. Batu besar memang masih banyak terdapat di desa kami. Satu yang harus kami jaga dan syukuri, dan pagi itu, Sabil membuat keputusan besar di tempat itu. Keputusan yang aku menjadi saksi bisu atas semua percakapan mereka.

“Bil, mbak Sakhi sudah tau semuanya. Sabil tidak perlu lari lagi.” Mbak Sakhi pun memulai.

“Sabil minta maaf mbak dan sepertinya Sabil lebih baik mengundurkan diri saja..” Ia menunduk, masih tidak berani menatap mbak Sakhi.

“Maaf itu benar-benar kata yang buruk ya. Mbak ndak suka mendengarnya. Rasanya seperti menyerah begitu saja. Pecundang amatir!” Nada bicara mbak Sakhi mulai tinggi dan tajam di telinga.

“Kamu tentu masih ingat kan apa yang pernah mbak bilang, le? Kamu terlalu besar untuk bermimpi kecil. Mbak tahu kamu ingin sekali menjadi duta besar. Apa cukup dengan hanya tamat SMA? Negara mana yang butuh duta seperti itu, hee?” Mbak Sakhi berkata lagi.

“Dan kamu juga ndak boleh lupa. Satu yang selalu mbak ulang-ulang, apa?” Mbak Sakhi sudah menatap tajam kebanggaannya.

“Iya Sabil tahu mbak, bahwa menjadi keren itu pilihan, kan mbak..” Sabil tentu tahu, akupun begitu. Mbak Sakhi tidak pernah bosan mendengungkan itu setiap kami hendak presentasi di kelas maupun di panggung musholla. Mbak Sakhi juga sudah menuliskan besar-besar moto favoritnya itu di kamarnya. Jadi bagaimana kami tidak jadi hapal tentang satu yang tidak boleh lupa darinya ini.

“Tentu saja! Anak laki-laki selamanya jadi anak laki-laki. Kamu selamanya milik keluargamu maka jadilah kuat! Kelak saat Ibuk Bapak sudah tua, kamu bisa jadi sandaran yang nyaman, meski kita tau mereka tidak ingin merepotkan. Kamu juga akan jadi bapak untuk keluargamu sendiri. Karnanya jika kamu sudah tau berharganya hidupmu, perjuangkan! Mbak mau kamu ambil kesempatan itu, titik!” Mbak Sakhi tiba di penghujung kata-katanya. Ia kemudian diam menunggu jawaban adiknya dengan masih menatap tajam bungsu kami.

“Tapi mbak..” Sabil tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Setengah takut menatap wajah mbak Sakhi, setengah lagi ia memang ingin mengambil peluang itu.

“Baiklah mbak, Sabil mengerti. Sabil menurut sama mbak Sakhi. Sabil tahu mbak pasti marah jika Sabil mengundurkan diri, tapi Sabil juga ndak mau jadi membebani, mbak, biaya kuliah itu.. apalagi..” Sabil masih ingin melepas semua penatnya. Sayangnya, mbak Sakhi sudah menepuk bahu Sabil dan berlalu membawa sekarung rumput Sabil pulang.

Mbak Sakhi!” panggil Sabil. Mbak Sakhi menoleh.

”Sabil janji Sabil mau buat mbak Sakhi bangga!” Mbak Sakhi tersenyum, aku tersenyum, dan angin pun tersenyum menghembuskan pesonanya di antara kami. Pagi itu adalah akhir dan awal baru kami. Akhir dari ketakutan menghadapi keterbatasan keluarga dan awal perjuangan baru kami untuk mimpi Sabil.

oOo

Dear, my precious dear..

Mbakku sayang. Terimakasih untuk semua bentuk ketegaran hati yang kau teguhkan di sanubari kami. Sungguh aku tidak tahu besarnya tanggung jawab kakak pertama di pundakmu. Sedalam apa sayangmu untuk kami, aku tahu, kamu berkorban banyak untuk kami. Meski kamu tidak pernah mengutarakannya, aku sadar, saat teman-teman sepantaranmu bermimpi tentang gaun apa yang akan dikenakan saat di pelaminan, kamu justru mengambil kerja setiap hari demi adik-adikmu. Bekerja tanpa jeda, seperti apa rasanya mbak..

Mbak, pun saat teman-temanmu bermimpi mendaki gunung manalagi, menuju pulau apalagi, atau menyelam laut dimana lagi, kamu justru memilih menghabiskan waktu senggangmu dengan bersepeda seorang diri, kenapa? Aku hanya tahu itu tidak menghabiskan sepeser recehpun kan, mbak..

Mbakku, demi aku yang juga menyayangimu, aku berdo’a semoga engkau disayang-Nya sebagaimana Ia menyayangi hati-hati yang berpegang teguh pada janji-Nya. Bermimpilah juga seperti mereka! Semoga engkau dipertemukan dengan orang yang baik di dunia ini. Seseorang yang membersamaimu menghabiskan masa tua bersamamu dan anak-anakmu.

Mbak, meski aku tidak lagi bisa berisik di hari-harimu, do’aku selalu menemanimu, di belakangmu, di atasmu, di depanmu, di sekitarmu.

Mbak yang kusayangi engkau lebih dari siapapun, berbahagialah selalu..

oooOooo

Bumi batas kota, 7 Sya’ban 1436 H

-Nunna Lita

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s