Diposkan pada CerPenku, lita lite

Pagi Juli

Selamat pagi! Sang pencinta pagi selalu bangun pagi. Tidak peduli selarut apapun ia tidur, ia selalu mengerti bahwa udara sejuk bersama lukisan fajar terlalu menyenangkan untuk ditukar dengan nikmat palsu bertajuk bangun kesiangan.

oOo

Pagi selalu menyenangkan. Satu hal yang sedang kupelajari dari sang pencinta pagi itu. Seorang gadis yang sekelumit kisahnya di suatu pagi di bulan Juli hendak kuceritakan padamu melalui catatan ini.

Demi dialah gadis yang lebih suka menikmati sebuah pertanyaan tentang apa yang akan ditakdirkan langit untuknya di hari itu daripada sekedar memikirkan apa-apa yang bisa ia lakukan, menenangkanku. Seseorang dengan kebiasaan meluangkan beberapa menit di hidupnya untuk menatap langit dan menghirup-helakan nafas lebih panjang dari biasanya beberapa kali di waktu fajar, menentramkanku. Juga demi gadis yang sama yang selalu bersenyum ketika ia menemukan bulan masih terlihat, bintang masih bertabur, pun saat tidak satupun dari mereka ia temui, membuatku tersenyum.

Sebuah senyum yang hanya saat kamu melihatnya sendiri kamu akan mengerti bahwa semua itu adalah caranya menggubah energi syukur menjadi semangat pagi. Sebuah semangat baru yang selalu bisa dimulai dengan wajah berseri-seri.

oOo

Pagi itu, jam tanganku menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Artinya jadwal keberangkatan rangkaian gerbong kereta ekspres paling pagi di jalur nomor tiga tinggal lima menit lagi.

Aku sudah duduk di bangku menghadap ke utara saat aku melihat gadis itu berlarian kecil menuju pintu masuk stasiun terbesar di kota kecil kami. Tanpa memegang tiket, sepertinya, ia sedang berusaha menjelaskan pada petugas pintu bahwa ia berhak masuk peron.

Aku tidak mendengar percakapan mereka, tetapi jarak antara jalur rel nomor tiga dengan pintu masuk peron terlampau dekat untuk melihat bahwa gelengan kepala petugas peron itu mewakili banyak penjelasan. Gadis itu mana mungkin boleh masuk tanpa tiket!

Tidak mungkin, kecuali seorang pemuda yang semula berdiri di dekat pintu gerbongku beranjak berlari menghampiri gadis itu. Dua buah tiket digenggamannya terlihat berhasil meloloskan permintaan gadis itu, dengan mudahnya.

oOo

Keretaku sudah hampir berangkat, dan lihatlah, betapa senyum lega meliputi wajahnya selama ia menarik erat tangan pemudanya untuk segera memasuki gerbong nomor dua dari belakang ini. Keretaku masih bergeming, dan aku sudah tidak bertanya lagi tentang siapa pemuda bersamanya itu. Kereta pun mulai melaju, membawa serta cerita tentang gadis pencinta pagi yang berdiri bersama adiknya di hadapanku.

oOo

Ia melihat ke sekitar. Aku melihatnya tetapi ia tidak melihatku. Sebuah penjelasan mengapa tidak ada dialog saling sapa terjadi di antara kami. Saat ia berbisik tentang mengapa tidak ada satu orang pun di antara penumpang kereta yang ia kenal, gadis itu, aku mendengarnya, tetapi ia tidak mendengarku.

oOo

Satu jam berlalu. Keretaku sampai di jalur tiga stasiun bandara. Sebuah stasiun sangat kecil di kompleks bandar udara komersil kota tetangga.

Aku turun di peron selatan, belasan penumpang lain juga, dan mereka pun sama. Tidak banyak kaki yang melangkah menuju pelataran bandara sebelah selatan peron, karena memang tujuan rata-rata penumpang kereta ekspres bukanlah untuk melanjutkan perjalanan di udara, melainkan menyeberang rel menuju peron utara, tempat pintu keluar stasiun berada.

Posisi tiga jalur rel berada jauh lebih rendah dari peron selatan maupun peron utara, membuat penumpang dari arah barat harus menunggu keretanya pergi untuk bisa turun menyeberangi rel melalui tangga di sisi timur peron.

Aku pun memilih duduk menunggu di bangku peron. Gadis itu pun mengikutiku sama, membuat kami duduk bersebelahan, sedang adiknya memilih tetap berdiri di depannya.

oOo

Benarkah tidak ada orang yang kukenali dari sekian banyak orang disini? Gadis itu, aku mendengarnya berbisik tentang hal yang sama – lagi.

Saat ia melihat ke sekitaran pun, gadis itu, aku melihatnya tetapi ia tidak melihatku. Berharap takdir bertemu siapa sebenarnya? Aku hanya bisa membatin.

oOo

Perjalanan ke kota ini adalah perjalanan penawar rindu baginya. Rindu tentang kota tempat ia pernah belajar bersama teman-temannya di ‘Kampus Putih’, menjadi satu dari alasannya.

oOo

Aku tertarik dengan apa yang akan terjadi kemudian. Mengingat dia selalu baik dalam mengingat bahwa di dunia ini tidak ada suatu kebetulan. Mengenai apapun, dimanapun, termasuk dengan siapa saja wajah yang akan ia temui setiap hari, ia yakin semua sudah diatur sedemikian rapinya, termasuk lihatlah, bagaimana langit begitu cepat mengabulkan permintaan gadis itu. Ia mengenali satu wajah. Tentu bukan aku, tetapi pagi itu, aku sungguh menjadi saksi sebuah takdir pertemuannya yang menakjubkan. Sebuah takdir bertemu tanpa didahului janji untuk bertemu.

oOo

Wajahnya sempurna tertawan takjub. Ia tidak menyangka ia kemudian mengenali satu di antara wajah yang menghadap ke arah utara. Apakah ini terjadi karena pertanyaan yang ia bisikkan? Benarkah? Satu yang kutahu, aku juga takjub.

oOo

Perlahan berjalan mendekat, ia masih takut keliru mengenali orang. Walau bagaimana, lima tahun tidak berjumpa adalah waktu yang cukup bagi orang untuk bermetamorfosis menjadi lebih baik.

Ikut berdegup rasanya mengikuti langkah gadis itu. Riang juga jadinya saat aku melihat itu benar-benar wajah yang ia kenal.

oOo

Kereta ekspres paling pagi di depan peron selatan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Berduyun duyun penumpang termasuk aku menuju tangga, menuruni tangga, dan menuju peron utara. Aku mendengar percakapan ringan mereka. Dimulai dari saling bertanya kabar, kesibukan, dan cerita tentang satu pagi sebelas tahun lalu menarik perhatianku.

Saat gadis itu bercerita tentang mendapati seseorang bersepeda melewati depan rumahnya, aku penasaran. Saat gadis itu bercerita bahwa ia masih ingat satu hal yang menariknya saat itu adalah karena ia mengenakan seragam yang sama dengan seragam barunya, aku semakin tertarik, dan saat gadis itu mengakui bahwa ia mulai mengagumi kesederhanaannya beriringan dengan beragam prestasinya, aku sudah merinding kagum mendengarnya.

oOo

Percakapan pun bergulir mengenai masa-masa sekolah mereka. Sekali lagi aku tahu karna aku bisa mendengar mereka tetapi mereka tidak mendengarku.

oOo

Semakin dekat menuju pintu keluar di peron utara, aku menyimpulkan tidak ada yang istimewa dengan cerita mereka di masa lalu. Percakapan antara adik kelas dan kakak tingkatnya itu pun disudahi depan loket karcis peron utara. Sang kakak tingkat hendak meneruskan perjalanan udaranya dari ibukota menuju kota kelahiran dengan menumpang kereta ekspres kembali dari timur, sementara gadis itu harus melanjutkan perjalanannya.

oOo

Aku sudah berada di shelter bus kota saat gadis itu memasuki bangunan kaca yang sama denganku bersama sang adik. Ia duduk di sampingku – lagi, dan aku masih bisa mendengarnya tetapi ia tidak mendengarku. Kali ini aku mendengar ia sedang bercerita pada adiknya tentang betapa kerennya menjadi sederhana dan bersahaja seperti yang dicontohkan sang kakak tingkat padanya.

oOo

Lima belas menit menunggu sebelum akhirnya bus kotaku datang, aku mendengarnya berbisik – lagi..

Seandainya tadi aku berani menghampirinya, berani menyapa terlebih dahulu, meskipun aku harus menyesal kemudian bahwa akan ada kemungkinan aku akan menyampaikan bahwa dulu aku mengagumi sikap sahaja, santun, sederhana, dengan segudang prestasinya, sungguh lebih baik menyesal seperti itu daripada menyesal karna urung menghampirinya, bukan..

Kenyataan aku tidak tahu bagaimana ia bisa berada di peron selatan kemudian justru menuju loket karcis di peron utara, jika ternyata ia membutuhkan bantuan dari seorang teman, bukankah sekedar menyapa itu bersilaturahim? Dan bersilaturahim itu bisa menghantarkan banyak kebaikan.. ah.. paling tidak percakapan ringan itu bisa jadi lebih menyenangkan daripada sekedar imajinasiku, bukan..

oOo

Selamat pagi! Demi gadis yang selalu bersemangat di waktu pagi, aku berdo’a, Semoga ia selalu diberi takdir yang baik, aamiin.

Nunna Lita, 22 Dzulhijjah 1435 H

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

3 tanggapan untuk “Pagi Juli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s