Diposkan pada Uncategorized

Selamat Pagi!

Selamat pagi. Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan (Tere Liye, 2013).

Sepotong kutipan novel yang selalu kusukai. Novel Sunset Bersama Rosie. Paragraf yang kini hampir aku menghapalnya utuh. Kalimat-kalimat tentang syukur pagi pun menjadi selalu menyukainya karna pagi selalu indah. Meski langit berubah kelabu menyeramkan seperti yang terjadi satu hari yang lalu. Pagi itu, aku tergagap dibangunkan adik bungsu untuk ikut melongok ke jendela depan rumah. Bersama degup jantung berakselerasi cepat, duhai.. pemandangan apa yang dihamparkan di depanku saat itu. Langit menggurat kelabu dengan sisa hujan cokelat menganak sungai di jalanan. Langit itu, seperti langit dunia sihir ketika mendung di imajinasiku, dan hujan cokelat itu siapa gerangan yang menumpahkan botol susu dari atas sana?

Berita semalam benar sudah. Dentuman-dentuman yang terdengar nyatanya bukan dari medan latihan prajurit siap perang. Bukan, melainkan lebih hebat. Dentuman gunung meletus. 22.30 WIB, riuh media mengabarkan gunung Kelud mulai meletus. Kode biner melesak di jalur-jalur informasi lalu sampailah kabar itu ke kota kecil ini. Jarak Purworejo – Kelud rasanya cukup jauh. Jika ke Wonogiri saja membutuhkan waktu 5 jam perjalanan maka, butuh waktu sekitar 6 jam dari Wonogiri untuk sampai ke zona bahaya itu. Cukup jauh untuk membayangkan bagaimana lirih dentuman yang sebenarnya diserukan gunung terdengar di sekitar sana. Masya Alloh.

bunga Ibu
bunga Ibu

Selamat pagi. Bagiku waktu selalu pagi. Apalagi ketika waktu benar-benar masih pagi. 06.45 WIB. Rutinitas sekolah adik seharusnya sudah rusuh menyibak hening pagi. Namum tidak untuk pagi itu. Sekolah otomatis diliburkan. Siapa pula yang mau berabu-abu demi melihat sekolah tanpa manusia-manusia? 14 Februari 2014 menjadi hari libur dadakan bagi kota di jalur abu Kelud. Hari itu seharusnya aku lantas ikut duduk manis saja di dalam rumah, menyaksikan liputan demi liputan perkembangan Kelud dari dalam sana. Layar televisi. Tetapi tidak untuk pagi itu. Aku harus keluar demi mencari sesuatu.

Obat untuk Ibu. Sedih, melihatnya sakit justru di saat-saat kesehatan harus benar-benar dijaga ditengah kepulan abu. Sedih, mendengar batuknya. Suara parau, mata berair, badan demam, lalu muntah. Jika bisa menggantikan, lebih baik aku saja yang sakit. Ibu, syafakillah.

jejak cintaku pada Ibu
jejak cintaku pada Ibu

Aku harus mendapatkannya. Kemanapun harus mencari. Kupancang masker dan payung. Menghambur keluar rumah. Berhenti sejenak demi takjub akan lukisan alam dari gelaran rumput, atap-atap rumah, dan daun-daun. Kembali sadar lalu mempercepat langkah. Tempat pertama, obat habis di sana. Sempat berpikir untuk pulang mengambil sepeda atau lari saja ke tempat ke-dua. Lari saja.

jalan desa depan rumah
jalan desa depan rumah

Jalanan sepi ketika aku telah mulai berlari di aspalan abu. Beberapa kendaraan kemudian melintas menyeret kepulan debu semakin riuh. Tidak peduli. Aku tetap lari. Jalan masih sepi ketika kemudian angin datang memberatkan payungku. Mataku perih, memicing pejam sambil tetap berlari. Lari semakin dekat untuk sampai. Aku sampai. Lalu tertawa membatin. Tutup. Tempat ke-tiga, akhirnya aku sampai ke tempat ke-tiga. Tutup juga, tetapi demi melihat pemilik toko di samping toko, aku tak peduli lagi jika harus memaksanya melayaniku. Ternyata toko ini tidak tutup. Aku hanya tidak memperhatikan jika ada tulisan toko buka lewat samping. Alhamdulillah, akhirnya kugenggam juga, obat buat Ibu.

sepi
sepi

Lari lagi. Ibu sudah terlalu lama menunggu. Aku harus cepat sampai rumah lagi. Terengah, akhirnya aku sampai. Ibu lekaslah sembuh.

Jumat itu menjadi saksi Kelud menebarkan cinta melalui segala bentuk vulkaniknya. Jumat juga menjadi saksi bentuk sayangku untuk Ibu. Meski tenggorokan dan hidung menjadi gatal. Meski aku harus membersihkannya dari halaman rumah Ibu di sore hari. Saatnya membatalkan semua jadwal kelas dan mengambil cangkul, sapu, cetok, ember, kunci kran, juga gombal. Siap untuk bersih-bersih.

cangkul lebih berat daripada pena :D
cangkul lebih berat daripada pena 😀

Cangkul itu berat. Pelajaran pertama. Bermain lumpur itu menyenangkan. Hanya perlu hati-hati terpeleset. Pelajaran ke-dua. Memiliki sumur itu wajib karna air ledeng sungguh tidak bisa diandalkan di saat-saat seperti ini. Pelajaran ke-tiga. Memiliki tetangga pembersih adalah mengasyikkan. Saat lima rumah saling menyapa bekerja sama membendung parit dan mengguyuri jalan. Momen-momen menyenangkan. Pelajaran ke-empat.

ember ini biasanya berisi air guyuran talang tetapi kemarin 7/8nya berisi lumpur :D
ember ini biasanya berisi air guyuran talang tetapi kemarin 7/8nya berisi lumpur 😀

Setelah itu, masih ada pelajaran-pelajaran penting teruntai. Kerja sama antar manusia, nasehat kebersihan menjadi separuh iman yang harus dijaga hanyalah contoh lain sebentuk cinta Kelud yang bisa kuterjemahkan.

Semoga setelah Kelud kembali tenang, langit menjadi lebih baik. Terimakasih Kelud, terimakasih untuk cinta yang engkau tebarkan. Terimakasih Tuhan. Alhamdulillah untuk setiap nikmat yang pada awalnya bertopeng bencana alam. Selamat pagi!

pagi :)
pagi 🙂
aku sudah dimandiin lhoh,,udah seger lagi ;)
aku sudah dimandiin lhoh,,udah seger lagi 😉
bunga kakti Ibu :)
bunga kakti Ibu 🙂
daun-daun pun merunduk menerima cinta Kelud :)
daun-daun pun merunduk menerima cinta Kelud 🙂

-Nunna lita, 14 Rabiul Akhir 1435 H

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

7 tanggapan untuk “Selamat Pagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s