Diposkan pada lita lite

Beep [Bagian 1]

“Terimakasih sudah datang :)” Satu sms ku baca saat aku baru saja berdiri di antara kerumunan penonton.

“Bahkan lampu panggung tidak mampu mengalahkan sinarmu. Bisakah kau melihatku? :)” sms kedua beruntun ku baca.
Ku lihat ke sekitaran, dan aku menemukannya. Berdiri di samping panggung dan melambaikan tangannya. Aku pun tersenyum mengangguk. Pertunjukan dimulai. Anak-anak belasan tahun berlarian memasuki panggung. Musik enerjik menggema ruangan dan anak-anak pun menari lincah. Sebuah pertunjukan drama anak-anak jalanan.

Beeb. Sms ke-tiga.

“Ikut menari sepertinya menyenangkan :)”, akupun menoleh ke arahnya dan lihatlah apa yang ia lakukan, mencoba meniru gerakan anak-anak di panggung. Tak pelak aku hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala.

Beep. Sms ke-empat.

“Setelah ini lihatlah bagaimana aku akan mempesonakanmu dengan gitarku! Pastikan untuk melihat ke arahku saja, oke!” seperti biasanya ia selalu bisa merekahkan senyumku mengikuti jalan pikirannya, membuatku merasa teristimewa.

Mengenalnya adalah bahagiaku. Masih teringat saat pertama ia menemukanku terisak di dalam atm sebuah pusat perbelanjaan. Kala itu aku tidak berniat untuk melakukan transaksi perbankan. Hanya saja atas semua yang terjadi padaku membuatku ingin menangis seketika. Malu untuk menunjukkan air mata di tengah keramaian, begitu melihat kotak ATM akupun menghambur masuk. Sepuluh menit sudah aku menangis sesenggukan menundukkan kepala sampai seorang nasabah yang mengantre di belakangku mengetuk pintu lalu membukanya sembari menawarkan bantuan.
“Maaf mbak, apa mungkin ada yang bisa saya bantu?” Aku hanya menggeleng dan keluar setengah berlari untuk menghindari pertanyaan lain dari pemuda itu.

Beeb. Ada sms lagi. Langsung kubuka, ternyata bukan sms ke-lima darinya. Sebuah pesan dari orang rumah yang mengabarkan sesuatu yang membuatku membalikkan badan untuk segera pergi, menyeruak kerumunan penonton. Demi melihat raut mukaku berubah menjadi cemas, ia ikut lari memutar panggung untuk menyusulku.

Beeb. Pesan ke-lima darinya ku baca di dalam taksi.

“Ada apa? Bahkan secepat langkah aku taksampai mengejarmu. Hanya melihatmu masuk dalam taksi, benar-benar membuatku khawatir!”  maafkan aku. Hanya itu jawaban yang keluar dalam batinku.

“Maaf untuk membuatmu khawatir, aku harus pergi, ada yang menungguku.” Kukirimkan balasan semampuku menyembunyikan kabar mengejutkan yang baru saja ku terima.

“Aku menyusulmu. Takpeduli jika kau akan melarangku. Aku akan menemuimu!” sms-nya lagi.

Bagaimana ini, aku tak mampu mengatakan aku akan bertemu siapa. Terlalu menyakitkan untuk menyebut namanya. Meskipun aku ingin engkau ada di sampingku saat ini. Biarlah takdir menuntunmu kemari jika memang kau bersikeras menyusulku, aku yakin dia tidak akan pernah datang terlambat.

Saat taksi yang kunaiki masuk ke halaman rumah sakit, adikku menelepon demi mengabarkan ia mencariku ke rumah. Seperti yang kukira, dia cukup pintar untuk tahu kemana aku pergi.

oOo

Pemuda itu lari mengikutiku sambil memanggil-manggil namaku. Tersadar oleh rasa penasaran bagaimana pemuda ini tahu namaku, aku pun berhenti dan menoleh.

“Sepertinya dompet ini milikmu, benar kan?” Aku mengangguk pelan.

“Syukurlah, kalau begitu sebagai ucapan terimakasih bagaimana dengan semangkuk es?” senyum tersungging di bibirnya setelah ia mengucapkan permintaan konyolnya.

“Ah, ya..” kataku dengan sisa-sisa wajah yang baru saja tegang karena menangis. Begitulah pertemuan pertama kami. Dekat seiring berjalannya waktu mengobati hal yang kutangisi dalam kotak ATM.

oOo

Memandang wajah itu lagi setelah sekian lama membuat penjagaan air mata runtuh seketika. Seseorang dari masa lalu yang memberiku sakitnya perpisahan tanpa kata kini terbaring koma. Melihat sekitaran, aku takkuasa menangis sedu sedan. Bagaimanalah, selang-selang menjuntai ditusukkan ke tubuhnya, yaa Alloh..

(Bersambung)…

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s