Diposkan pada Fisika menyenangkan :)

Sebingkai Kenangan Jogja Lantai Empat

.: Tanpa sengaja teringat sebuah catatan. Lucu sendiri ketika membacanya lagi beberapa bulan setelahnya. Aku pernah seingin ini. Kini catatan ini hendak kubagi saja, siapa tahu ada yang ingin membacanya 😀 :.

Masih ranum berbuah dalam ingatan, kali pertama mata ini melihat lagi yang ingin ia lihat setelah dua semester bergulir melupakan keinginan terbesarku di masanya. Pengumuman itu, butir-butir persyaratan itu, betapa menyesalnya kali pertamaku melihatnya dulu, kini sudah tiada berarti lagi.

Demi semoga menjadi kebaikan di masa depanku nanti dan demi bisa menuliskan kenangan ini, penyesalanku itu harus kubayar dengan lunas. Sebuah harga mati. Mengulang mata kuliah memang taksesemangat dibanding mengambil mata kuliah baru namun demi dua buah demi dan mengingat dua wajah yang selalu sepenuh hati untukku, aku harus melakukannya. Buah penantian panjang dari himmah yang sempat tertahan oleh sebuah nilai mata kuliah yang masih di bawah syarat pun kini terasa manis sudah dalam ingatan.

Selembar kertas rekruitmen yang sudah sejak lama aku ingin mengikutinya bisa kusambut dengan penuh semangat. Bersama langkah-langkah riang, semua syarat akhirnya bisa kukumpulkan tepat di hari akhir pendaftaran dan perjuangan pun menapaki babak baru. Tes seleksi.

Berada dalam ruangan tes sebelum soal dibagikan rasanya sudah ingin menyerah saja. Rasanya benar-benar menjadi amnesia akan keinginan kuat di hati, lupa akan liku jalan yang sudah dilewati, lupa akan restu yang telah kuminta pada Ibu dan Bapak, lupa, lupa, dan lupa.

Bagaimanalah, di ruangan sebesar ukurannya, sejauh mata mengedarkan pandangan yang nampak adalah wajah-wajah senior yang kukagumi dan teman-teman yang keren, sedangkan aku, siapa aku? Soal pun dibagi. Mental tempe kembali mengusik kendali detak jantung ketika satu per satu nomor soal selesai kubaca. Apalah daya, hanya pembelaan yang kucari. Kutengok teman-teman di sebelah kanan dan kiri, memutar kursi ke depan dan belakang. Cukup membantu karena ekspresi kami ternyata sama, senyum pun sama. Sama lucunya.

Sulit memang bersitatap dengan soal sulit, tetapi  ini sudah menjadi hal biasa bukan? Sudah berapa tahun sekolah, berapa lama duduk di bangku kuliah. Jadi biarlah, biar kini takdir Alloh yang bekerja. Percaya diri saja. Diterima atau ditolak, pena telah kugenggam dan aku hanya perlu menuliskan jawaban yang menurutku benar selama waktu yang dibataskan.

Beberapa hari berlalu, pengumuman tiba dan aku diterima. Tiga per empat logika menyangkal sisanya heboh sendirian. Jogja Lantai Empat pun menjadi rumah baru bagiku. Bersama teman-teman baru, dengung alat resonansi dan lensa prisma-lensa planparalel yang setia saja kuintipi, sungguh menyenangkan bisa belajar dengan tunas-tunas baru. Tugas dan tanggung jawab yang serba baru ini, semua adalah keinginanku, karenanya semua resiko jika pantas dianggap resiko kunikmati. Semua pahit terasa manis, dan dua bulan kebersamaan dengan keluarga baruku ini pun telah dan akan selalu menjadi kenangan manis bagiku.

Dua bulan memanglah waktu yang teramat singkat jika dibandingkan dengan jumlah detik yang telah kulalui, namun jika setiap momen kebersamaan ini diuntai, adakah alat yang bisa mengukur panjangnya? Apakah dengan mistar? Jangka sorong? Atau dengan si milimeter sekrup? Duhai, urusan perasaan memang terlalu rumit untuk diukur layaknya objek eksperimen fisika. Jadi biarlah hati yang menentukan bagaimana kenangan ini akan menjadi kenangan yang tak terukur istimewanya, selamanya.

Jogja Lantai Empat, sebentar lagi tugas dan tanggung jawab ini selesai seiring inhall dan responsi. Semoga  bisa bersama-sama lagi, di masa yang akan datang, dalam bingkai yang lebih indah. Terimakasih untuk dosen-dosenku yang cantik hatinya, Bu Retno dan Bu Amel juga Pak Ashim. Kepada para hati yang telah mengajarkanku tentang loyalitas,  hati-hati yang lucu dan unik sendiri-sendiri, senang bisa mendayung sampan bersama di Jogja Lantai Empat. Atas syukuran wisuda sarjana strata-1, syukuran sidang tesis, dan syukuran pernikahan adalah bonus semangat bagiku. Semoga berkah. Semoga sukses untuk kita semua. Aamiin.

Dalam kenangan, para hati yang cantik dan ganteng: Asih, teh Wy, Nuyul, Nofanto, Astika, Vika, Indah, mbak Lina, mbak Sita, mbak Novi, mbak April, mbak Fatim, mbak Dai, mbak Daim, mas Sidi(qi), mas Sidi(ka), mas Fariz, dan Abu. Semoga selalu bersinar dan bercahaya dimanapun berada 🙂

Bumi Jogja, 8 Rajab 1946

Ku, Aku

-Ma-

Iklan

Penulis:

Nunnalita, nama penaku. Tidak ada yang istimewa mengenaiku, tiada jua aku berharap akan dikenal karena tulisanku, aku hanya suka menulis. Terimakasih sudah berkunjung ke rumah tulisanku ini. Kesan dan pesan kurindukan. Salam senang menulis :)

4 tanggapan untuk “Sebingkai Kenangan Jogja Lantai Empat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s