Hadyan


Ada yang pagi-pagi sudah pegang sapu, asik sendiri di latar depan rumahnya. Bersama sejuta pesona pagi―semilir sejuk angin, hening suara, dan segarnya dedaunan berembun―di bawah langit bersih bertajuk lazuardi lihatlah, bagaimana seluruh cerita ini dimulai.

Adalah Najmi. Sebut saja begitu. Wajahnya menjadi berseri-seri saat mendengar ada yang memanggilnya. Lirih saja, tapi sudah cukup untuk membuatnya menoleh.

Ialah Hadyan, nama sebenarnya. Anak laki-laki kelas lima sekolah dasar, turun dari sepeda tanggungnya. Pelan-pelan kulihat ia tuntun sepedanya mendekati Najmi kemudian. Perlahan jua ia berjalan setengah menunduk menghampiri Najmi, masih dengan senyum khasnya yang kukira begitu tulus, membuat Najmi dan aku ikut tersenyum. Duhai.. kamu pun pasti mengerti, hanya senyum tuluslah yang bisa membuat siapa saja di sekitaran tulus itu turut tersenyum.

Najmi pun menyapanya jua. Pagi sekali, rajin sekali, begitulah isi sapaan itu, sebelum aku terenyuh melihat adegan apa kemudian. Hadyan mengulurkan tangannya. Salim. Masya Allah, anak ini.. santun sekali..

Tahukah kamu, Nak. Jika boleh aku mewakili apa yang hendak Najmi sampaikan padamu, ia bahagia. Mendapati anak sesantun Hadyan, Najmi besryukur sungguh. Engkau mungkin masih anak-anak, tetapi Hadyan telah mengingatkanku dimana aku tinggal dan apa yang tidak boleh aku sepelekan.

Tiada akan pernah terlupa, jika pun lupa, aku akan ingat saat membaca tulisan ini. Betapa mendapatimu santun lebih membuat hati ini bahagia, Nak.. lebih dari sekedar saat diberitahu nilai-nilai bagus di atas kertas ulangan, meskipun itu engkau peroleh dari hasil belajarmu sendiri.

Terimakasih Hadyan. Jika engkau tidak pernah tahu seseorang boleh jadi serta merta menjadi ringan hatinya mendo’akanmu hanya karena engkau santun padanya maka, terimalah. Sebuah hadiah atas santunmu, Nak, Najmi kemudian mendo’akanmu. Semoga senantiasa dijaga sholihnya sama Allah, tumbuh besar menjadi muslim sejati yang sarat prestasi.🙂🙂

 

-nunnalita, masih di Bumi Batas Kota, 23 Dzulkaidah 1437 H

Bidadari itu…


Assalamu’alaikum sahabat wordpress.. lama diri tiada berkunjung kemari. Jika ini rumah, pastilah rumput di halamannya sudah meninggi, lantainya berdebu, dan agaknya benar aku rindu. Bukan rindu menggebu, hanya rindu menulis disini, dan bersama catatan lama ini, semoga rinduku membawa serta pemahaman yang baik tentang, bidadari itu….

oOo

Mataku basah membaca dialog ini. Dialog panjang tentangmu, tentang Islam memuliakan dirimu. Sebuah dialog yang bermula dari Surah Ad-Dukhan ayat 54, “Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.”

 

Adakah kamu juga bermata basah setelah membaca ini? Sampaikan padaku, aku akan senang mendapati diriku ditemani.Read More »

Kisi-Kisi UN 2016


Semangat pagi🙂 Semangat belajar, anak-anak Najmi🙂 Sudah punya kisi-kisi UN 2016? Bagi yang belum, bisa klik link di bawah ini ya, semoga bermanfaat, salam semangat, selalu🙂🙂

Peraturan BSNP Kisi-Kisi UN Dasar dan Menengah 2015-2016

Kisi-kisi UN 2016 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

Kisi-kisi UN 2016 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Teologi Kristen/Sekolah Menengah Agama Katolik

Kisi-kisi UN 2016 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan

Aku dan Fisika


Selamat pagi anak-anak Najmi🙂 Selamat mendaftar ke sekolah yang lebih tinggi bagi yang baru saja lulus. Semoga lolos ya!

Momen-momen mendaftar sekolah seperti ini membuatku ingin bercerita. Cerita tentang aku dan Fisika. Ada apa dengan Fisika? Ialah satu-satunya. Yap, Fisika. Mata pelajaran yang kudapati untuk kali pertama di bangku SMP. Kamu tahu? Aku bersekolah di SMP terfavorit di kotaku. Apakah aku bangga? Sedikit. Sisanya? Aku bersyukur karenanya aku memiliki teman-teman keren di hidupku. Teman yang sudah jadi dokter, abdi negara, pengusaha sukses, maupun ahli-ahli, meskipun aku masih apalah-apalah. Hehehe😀

oOo

Aku tidak akan mencantumkan tahun berapa aku masuk ke SMP-ku. Bukan karena takut kelihatan tua melainkan aku lupa, hehehe. Okelah, sebut saja sekitar 12 tahun lalu, alhamdulillah aku diterima di sekolah itu. Tidak banyak yang kuingat, saat itu aku justru sedih karena tidak banyak teman se-SD yang mau masuk kesana. Hanya beberapa orang, membuatku menyadari sesuatu. Sahabat jugalah penting dalam memilih sekolah. Tapi tidak apa-apa, aku pasti akan menemukan banyak sahabat baru disini, keyakinanku.

Oya, bersekolah di SMP favorit juga banyak tantangannya. Jika kamu siap menghadapi semua poin ini, Read More »

Me and Mie


*Sebelum bercerita, aku ingin menyampaikan Marhaban yaa Ramadhan semuanya 🙂 Mohon maaf lahir batin ya. Bagi yang tidak bisa membuka, semoga bisa menutup, siapkan saja catatan hutang puasa, hihi🙂🙂

Oke. Kali ini aku ingin menulis tentang mie karena aku suka mie. Dari kecil sudah suka mie. Kata Ibu, dari sekitar umur tiga tahun cerita ini dimulai. Pernah jam dua dini hari mengusik tidur cantik Ibu, hanya karna aku ingin semangkuk mie instan kuah. Oi.. betapa menggemaskannya saya sebetulnya di mata Ibu! Meski begitu, aku berterimakasih karena beliau bercerita justru dengan gelak tawa. Hihihi.

Mie. Anak-anak mana yang tidak suka mie? Angkat tangan! Kukira, sebagian besar anak-anak suka mie. Jika ditanya kenapa, karna mie menarik menarik bentuknya, kenyal teksturnya, macam-macam rasanya. Itu menurutku.

Berawal dari cerita aku dan mie itu. Aku ingin membuat catatan. Untuk siapa saja penyuka mie seperti aku. Bahwa makan makanan yang instan-instan seperti mie sepertinya tidak baik untuk kesehatan. Karena banyak zat aditifnya. Zat aditif? Yap, penyedap rasa, pengawet makanan, dan pewarna sintetis. Hii.

Baiklah, fakta itu tentu tidak menyurutkan ketertarikan penyukanya. Justru merk dagang mie berjibun jumlahnya, kini. Dari semuanya, aku sedang suka mie ramennya N*ss*n. Hehe.

Lalu bagaimana kiat makan mie yang aman? Aman? Tentu saja kamu juga mungkin pernah mendengar kiat-kiat berikut ini.Read More »

Dear My Precious Dear


Tiada selapis awan pun malam itu. Langit bersih. Latar yang sempurna bagi para bintang bersinaran berteman cahaya rembulan.

Adalah Sabil, anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara di keluarganya, tengah duduk takzim di gundukan batu besar pinggiran kali batas desa. Tidak ada yang lebih istimewa dari lukisan langit kecuali gemericik air dan hamparan padi satu-dua ratus batang masih tampak rimbunnya di seberang kali.

oOo

Anak itu, satu-dua kali menghela napas panjang. Pikirannya masih dipenuhi tentang apa yang akan ia lakukan pada kertas yang sedari tadi ia genggam.Read More »